Habitat Coelacath Tercemar Lumpur dan Sampah

FOTO2_LISTRIK IKAN

Spesies Coelacath yang dipamerkan dalam World Ocean Conference (WOC), Menado, 2009. dok.sulung prasetyo

Habitat ikan purba, Coelacath yang baru-baru ini kembali ditemukan di wilayah Manado bagian utara, diindikasikan mengalami kerusakan lingkungan. Terbukti dari makin tebalnya lumpur dan makin banyaknya sampah yang bertebaran disekitar lokasi dimana Coelacath pernah ditemukan dalam kondisi hidup.

Lumpur terlihat makin tebal, sehingga visibility di dasar laut makin tinggi,” ujar Dekan Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi, Prof Dr Ir Kawilarang WA Masange MSc, pada acara workshop yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan tema Disemenasi Hasil Penelitian Peneliti Asing di Indonesia: Penelitian Ikan Raja Laut Coelacath, di Jakarta, Selasa (16/12/2008).

Sementara masalah sampah terlihat makin banyak terdapat di lokasi tersebut. Dimungkinkan sampah tersebut berasal dari daratan dan muara sungai disekitarnya.

“Dibandingkan beberapa tahun lalu, sekarang makin banyak sampah bertebaran disekitar lokasi dimana ikan Coelacath berada,” ungkap Kawilarang, yang kerap di panggil Alex.

Tinjauan itu sendiri juga berasal dari hasil rekaman video kehidupan
Coelacath di habitat daerah Buol, Sulawesi Utara. Dimana hingga kedalaman sekitar 190 meter, ditemukan lumpur makin banyak menggenang dan sampah yang melayang-layang di bawah permukaan laut.

Rekaman video tersebut kedua kali dilakukan. Setelah pernah dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Menurut Dr Augy Syahailatua dari Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, memang belum dapat ditentukan apa efek dari pencemaran tersebut.

Mengingat masa penelitian terhadap kehidupan ikan tersebut yang masih minim. Namun secara kasat mata, kondisi perubahan lingkungan jelas akan membawa akibat pada makhluk hidup. “Oleh karena itu kedepannya disarankan adanya rencana manajemen untuk konservasi dari ikan tersebut,” ujar Augy, pada kesempatan serupa.

Ikan Coelacath pertamakali ditemukan keberadaannya di Indonesia pada tahun 1997 oleh Dr Mark V Erdmann dari Universitas California di Berkeley AS. Ikan pertama kali ditemukan dalam keadaan mati di pasar Bersehati Manado. Setahun kemudian, seorang nelayan dari pulau Manado Tua secara kebetulan menangkap seekor ikan Raja Laut yagn dikemudian dibawa ke Museum Zoologi Bogor untuk
diawetkan. Total sampai tahun 2008, specimen ikan Coelacath telah ditemukan sebanyak empat kali di Indonesia.

Ikan yang memiliki nama latin Latimeria menadoensis ini dianggap satwa yang memiliki tingkat pergerakan lamban. Dalam waktu enam bulan berselang dari dua kali pengambilan video kehidupannya, diketahui ikan tersebut tetap berdiam ditempat yang sama dan tak memiliki daya jelajah jauh untuk mencari makan pada malam hari.

“Pada siang hari ikan ini hanya berdiam di gua-gua didasar laut,” kata Masamitsu Iwata, dari Aquamarine Fukushima Jepang, pada waktu yang sama.

Hingga kini ikan yang juga pernah ditemukan di semenanjung selatan benua Afrika tersebut, terus diteliti. Sampai terakhir belum dapat dipastikan berapa jumlah populasi ikan ini sebenarnya di Indonesia. Dari beberapa usaha pencarian komunitasnya di wilayah utara sulawesi dan selatan Philipina, hanya ditemukan dua spesies hidup di wilayah Buol. Rencananya penelitian akan diteruskan mencari di wilayah Biak dan Papua, karena menurut kabar dari para nelayan setempat, mereka juga pernah menemukan ikan dengan jenis serupa disana. Sudah pernah dimakan juga, meski menimbulkan buang-buang air dan keluarnya banyak minyak dari kulit orang yang memakannya. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s