Burung Kawasan Wallacea Terancam

Berdasarkan kajian Burung Indonesia, saat ini sebagian besar Kawasan Wallacea justru tidak terlindungi secara memadai. Ini akibat jaringan kawasan konservasi yang belum cukup melingkupi seluruh areal penting bagi konservasi yang ada di kawasan itu.

Sebagai contoh, dari 227 daerah penting bagi burung (DPBB) yang ada di Indonesia, sebanyak 111 DPBB ada di Wallacea. Sayangnya, sebanyak 75 dari 111 DPBB itu justru berada di luar jaringan kawasan konservasi. Ini artinya, kawasan penting tersebut seperti harus melindungi dirinya sendiri dari gerusan zaman. Demikian diungkapkan organisasi lingkungan Burung Indonesia, Senin (1/12/2008).

“Ancaman dari alam ini sangat berarti bagi sekitar 26 juta penduduk Wallacea, yang notabene selama ini sudah cukup tertinggal dibanding penduduk di kawasan barat Indonesia. Apabila air, tanah, dan hasil hutan yang selama ini menjadi sandaran hidup utama mereka tak ada lagi, bisa dibayangkan bagaimana bencana ekologis ini pada akhirnya akan membawa konsekuensi juga pada kehidupannya,” ujar Sukianto Lusli, Direktur Eksekutif Burung Indonesia.

Momentum 150 tahun Ternate Paper yang kali ini diwujudkan dalam surat dari Alfred Russel Wallace kepada Charles Darwin yang menginspirasi teori evolusi, seharusnya menjadi tonggak penting untuk membulatkan komitmen pelestarian alam kawasan Wallacea.

Sebab, kekayaan alam Wallacea itulah yang mengilhami Wallace hingga melahirkan teori evolusi yang sampai saat ini masih menjadi acuan ilmuwan dunia harus dipertahankan kondisinya mendekati 150 tahun lalu. Saat menjelajah Nusantara selama delapan tahun (1854-1862) Wallace mendapati bahwa antara satu pulau kecil dengan pulau kecil lainnya di Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku, ada variasi biota yang begitu menakjubkan.Variasi itulah yang menginpirasinya untuk menyusun cikal bakal teori evolusi.

“Kawasan Wallacea adalah satu dari dua kawasan dengan keanekaragaman tertinggi tetapi juga menghadapi ancaman tinggi (hotspot) yang ada di Indonesia. Yang membuat prihatin kalangan konservasi adalah, luasan pulau-pulau di kawasan ini sangat kecil sehingga kerusakan alam sekecil apapun berdampak sangat besar pada kehidupan masyarakatnya yang sangat bergantung pada alam,” tambah Sukianto.

Menurut kajian Burung Indonesia, salah satu strategi penyelamatan kawasan warisan dunia itu adalah paduan antara pengelolaan pulau kecil berkelanjutan, restorasi ekosistem habitat kritis, dan penguatan jaringan kawasan konservasi. Paduan tiga strategi konservasi itu pula yang telah dilakukan Burung Indonesia di lokasi-lokasi kerjanya di Wallacea (Halmahera, Sumba, Sangihe-Talaud, Mbeliling, dan Buru), untuk menghindarkannya dari kerusakan alam yang kian parah.

Dari sisi keanekaragaman hayati, Wallacea tak perlu diragukan lagi. Ini dibuktikan dengan tingkat endemisitas flora-faunanya yang paling tinggi dibanding kawasan lain seantero Tanah Air. Tak kurang dari 10.000 jenis tumbuhan hidup di kawasan ini, dan 1.500 jenis di antaranya adalah jenis endemik. Untuk mamalia, ada 126 jenis yang endemik Wallacea. Juga ada 99 jenis reptil dan 58 amfibia yang semuanya endemik Wallacea.

Data paling luar biasa ditunjukkan oleh burung . Tercatat 249 jenis burung endemik Wallacea dan 28 endemik tingkat genera. Artinya, Wallacea adalah kawasan dengan jumlah burung endemik tertinggi di dunia. Endemisitas di kawasan ini memang sungguh luar biasa. Tak heran jika Alfred Russel Wallace tak jemu menelaah kawasan ini selama 8 tahun (1852-1864), bahkan hingga menemukan dasar-dasar teori evolusi dari kawasan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s