Kebijakan Alat Kesehatan Tak Dukung Pribumi

Potensi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  di bidang alat kesehatan terhitung besar. Sayangnya peluang tersebut kurang dapat dimanfaatkan. Sayangnya kemudian, saat sudah bergerak untuk dimanfaatkan, kebijakan pemerintah tak mendukungnya.

“Setidaknya belanja nasional untuk alat kesehatan saat ini mencapai 16 triliun pertahun, dan baru dipenuhi oleh produsen dalam negeri sekitar 260 miliar,” ujar Asisten Deputi urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemenristek), Roy Sparringa pada acara Diskusi Panel Interaktif Peran Riset Iptek untuk Kemandirian Industri Alat Kesehatan, Kamis (27/11/2008).

Potensi tersebut sebenarnya bisa dimanfaatkan, bila seluruh pemangku kepentingan didalamnya bisa selaras menjalankan kebijakan. “Kebutuhan alat kesehatan saat ini sebenarnya tak terlalu sulit secara teknologi,” tambah Roy.

Karena dalam observasi awal yang pernah dilakukan, terungkap kebanyakan rumah sakit sebenarnya hanya membutuhkan alat-alat yang mudah dicari. Seperti pada kategori  alat diagnostik,  yang paling banyak dibutuhkan adalah tensimeter. Sementara untuk instrumen medik (furniture) yang banyak dibutuhkan ternyata tempat tidur.

Untuk instrument alat habis pakai, sarung tangan menduduki posisi pertama. Untuk instrument medik (non furniture) yang paling banyak dibutuhkan adalah minor set. “Sayangnya untuk alat-alat yang teramat mudah teknologi tersebut, kita masih banyak mengimpor,” tambah Roy.

Data tersebut juga dikuatkan oleh Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan (Depkes), Kustantinah pada kesempatan yang sama. Dari catatan Depkes, hingga tahun 2008 ini setidaknya 80 persen alat kesehatan di Indonesia merupakan produk impor. Sehingga dalam menghadapi era perdagangan bebas, kekuatan produsen alat kesehatan nasional harusnya makin diperkuat.

Namun menurut Titah Sihdjati Riadhie, dari Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki), keberdukungan pemerintah kurang terbukti. Seperti diketahui alat instrument medik (furniture) yang paling dibutuhkan adalah tempat tidur.  “Ketika kemudian hasil tersebut diolah dengan memproduksi tempat tidur  rumah sakit yang layak oleh produsen lokal. Pihak pemerintah malah membuat kebijakan mendatangkan ribuan tempat tidur rumah sakit dari Cina,” ungkap Titah.

Kini dengan merujuk pada arah pembangunan kesehatan, yang bertujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan kualitas kesehatan. Seharusnya kebijakan pada alat kesehatan sudah saatnya ditekankan pada produk dalam negeri yang memenuhi kaidah. dari berbagai institusi di Indonesia sendiri, setidaknya sudah puluhan prototipe alat keseahtan berhasil diciptakan. Sementara yang telah mencapai tahap komersial, masih terhitung dengan jari. Termasuk di dalamnya alat penghancur jarum suntik yang dibuat oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s