Orang Utan Tumbang Koling Terancam Punah

Makin sempitnya hutan alami karena perkebunan sawit, diperkirakan akan menyebabkan orang utan di daerah Tumbang Koling Kalimantan Tengah akan punah, beberapa tahun kedepan. “Orang utan di Tumbang Koling kini terus mengalami penurunan populasi sebesar sembilan sampai sepuluh persen pertahun,” ungkap Hardi Baktiantoro, CEO Pusat Perlindungan Orangutan
(Centre for Orangutan Protection/COP) di Jakarta, Senin (17/11/2008).

Dengan orangutan tersisa sekitar 8000 – 9000 ekor saat ini di Tumbang Koling, serta tingginya peningkatan intensitas perkebunan
sawit. Maka diperkirakan dalam beberapa tahun kedepan, orangutan di Tumbang Koling akan mengalami kepunahan.

“Sekarang orangutan disana hanya bertahan dilahan hutan seluas 4000 hektare, dari semula yang mencapai 10.000 hektare pada tahun 1972 lalu,” tambah Hardi.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Christopel Sahabu, penduduk Tumbang Koling. “Kini konflik antara manusia dan orangutan makin
sering terjadi. Mungkin karena orangutan marah tempat tinggal mereka terus diganggu,” urai Christopel, pada kesempatan serupa.

Selain ancaman kepunahan orangutan, penipisan hutan alami di Tumbang Koling juga mengancam hilangnya berbagai spesies satwa dan tumbuhan lain. Survey yang diadakan COP menyebutkan setidaknya terdapat 34 jenis burung dan 11 jenis mamalia yang dilindungi, ada didalam kawasan hutan Tumbang Koling, saat ini.

Angka dari Population and Habitat Viability (PHVA) tahun 2004, memperkirakan jumlah orangutan di Kalimantan Tengah tersisa 31.300 individu. Dengan laju kepunahan sebesar 9% per tahun atau 2.817 individu, maka jumlahnya saat ini diperkirakan sebesar 20.032 individu.

Sementara itu menurut pemantauan COP sepanjang tahun 2007 – 2008, setidaknya 8613 orangutan seluruh Kalimantan Tengah, berada dalam kondisi terancam karena tinggal di luar kawasan konservasi. Habitat mereka sewaktu-waktu dapat dihancurkan untuk perkebunan kelapa sawit. Dengan laju kepunahan sebesar 2.817 per tahun, maka orangutan yang berada di luar kawasan konservasi di Kalimantan Tengah akan punah di alam dalam waktu tiga tahun
mendatang.

Sejauh ini, Departemen Kehutanan (Dephut) hanya melakukan tindakan evakuasi. Orangutan dipindahkan ke hutan lain atau dikirim ke Pusat Rehabilitasi. Di Pusat Rehabilitasi umumnya orangutan berada dalam kondisi luka parah, atau masih bayi karena induknya telah tewas dibunuh. Kini seluruh Pusat Rehabilitasi diperkirakan telah penuh dan kelebihan daya tampung. Seperti Pusat
Rehabilitasi Orangutan Nyarumenteng di Kalimantan Tengah hanya bisa menerima bayi orangutan, tidak untuk orangutan dewasa karena sudah tidak ada tempat lagi. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s