Bangun Taman Baru, Taman Lama Dilupakan

KRC 002

Tanda indormasi yang tak terurus di Kebon Raya Cibodas, 2008. dok.sulung prasetyo

Setelah sukses dengan membangun taman lumut dan taman sakura, tahun depan  Kebun Raya Cibodas (KRC) akan membangun kembali sebuah taman yang total berisi mawar. “Luas lahan taman mawar tersebut sebesar 3.000 meter persegi,” ujar Kepala KRC, Didik Widyatmoko, ketika ditemui dikantornya, Jumat (24/10/2008).

Menurut penjelasan Didik, keseluruhan pembangunan taman mawar akan selesai pada akhir tahun 2009. Sementara anggaran taman mawar tersebut setidaknya berjumlah Rp 1,4 milyar.

“Taman mawar itu akan berisi sebanyak mungkin spesies kultivar mawar yang ada di Indonesia,” tambah Didik.

Spesies kultivar sendiri berarti seluruh jenis anakan, biakan, stek atau campuran dari tumbuhan mawar. Di Indonesia menurut Didik tak ada jenis spesies mawar asli atau endemik. “Di kawasan Melanesia, tumbuhan mawar endemik hanya ada dua jenis di pulau Luzon Filipina,” ujar Didik.

Di lain pihak, pengamatan pada KRC secara keseluruhan, terlihat beberapa sarana dan prasarana KRC sudah tak terhitung layak. Seperti pada Kebun Tanaman Obat, terlihat tanaman yang ada di kebun tersebut terlihat tak terurus. Beberapa tumbuh namun dalam kondisi kering. Sementara beberapa rumput tumbuh subur di bawah beberapa tumbuhan obat lain.

Selain itu terlihat papan informasi tanaman juga sudah tak dapat dibaca lagi. Hanya satu yang masih terbaca, lengkap dengan manfaatnya. Namun tumbuhan yang lain tak dapat diketahui identifikasinya.

Menurut Trisno Utomo dari Bidang Jasa dan Informasi KRC, memang salah satu kesulitan terbesar yang dihadapi KRC sekarang, merupakan minimnya papan-papan informasi untuk tumbuhan yang ada disana.

“Beberapa tumbuhan yang hidup sejenis akhirnya hanya diberikan satu papan saja. Sementara yang lain hanya diberikan papan kecil yang dipaku ditumbuhan,” urai Trisno.

Masalah tersebut menurut Trisno berasal dari minimnya anggaran yang diberikan pemerintah, guna pengembangan KRC. “Daftar Isian Perencanaan Anggaran (DIPA) yang diajukan pada tahun 2006 berjumlah 6,9 milyar. Namun jumlah yang didapat hanya 2,3 milyar,” urai Trisno.

Keseluruhan dana tersebut dipaksakan untuk membiayai keseluruhan manajemen KRC, seperti gaji pegawai, peremajaan alat dan bahan, kegiatan kompetitif, pembangunan dan pemeliharaan bangunan, budidaya dan penelitian, serta banyak lainnya.

Selanjutnya jumlah yang didapat KRC melalui pemerintah memang terlalu sedikit, bila dibandingkan dengan pemasukan yang diberikan KRC, dimana dalam perminggu diperkirakan ada sekitar lebih dari 10.000 orang datang ke area tersebut. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s