Plastik Ramah Lingkungan Kurang Difasilitasi Pemerintah

Alternatif pengelolaan sampah melalui pembuatan jenis plastik ramah lingkungan (bigdegradable), dianggap kurang difasilitasi pemerintah. Sehingga potonsi ekonomi didalamnya, tak dapat berjalan sesuai rencana.

“Padahal bila dibandingkan plastik biasa dipasaran saat ini, yang baru hancur setelah 100 tahun. Plastik ramah lingkungan ini bisa hancur paling lama tiga tahun saja,” ujar Ir Sri Bebasari dari Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Sabtu (16/8/2008).

Secara potensi pasar, jenis plastic ini juga sebenarnya bersaing. Seperti dari faktor harga, bila dibandingkan dengan plastik di supermarket, plastic ramah lingkungan ternyata lebih murah. Sementara bila dibandingkan dengan kantung plastic yang dijual di pasar tradisional, plastic ramah lingkungan lebih mahal namun memiliki kekuatan lebih baik.

Namun disayangkan potensi ekonomi tersebut tak dapat dimaksimalkan. Mengingat pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dianggap kurang memberikan fasilitasi bagi pelaku program untuk memperluas pasar plastik tersebut.

“Namun dengan lahirnya undang-undang yang baru mengenai sampah, upaya untuk memasyarakatkan plastic ini dapat dilanjutkan kembali,” tambah Bebasari.

Hingga kini program pengenalan plastic ramah lingkungan terhitung mandeg. Tanpa diketahui berapa jumlah produksi dan didtribusi yang telah dilakukan. Sementara pihak produsen terus melakukan analisa ekonomi, dari peluang ekonomi yang ada.

Menurut data yang ada, plastik yang dikonsumsi masyarakat Indonesia mencapai 1,5 juta ton atau tujuh kilogram per kapita, termasuk jenis sampah yang tak bisa dilebur dalam tanah. Ada sekitar 3.700.000 ton per tahun bahan plastik diproduksi di Indonesia sebagai bahan campuran produk otomotif, perabotan rumah tangga, komponen elektronik dan banyak lagi. Sementara jumlah sampah yang berasal dari produk kemasan plastik saja mencapai 1.600.000 ton per tahun atau 4.400 ton per hari (SH/12/9/2001).

Selama ini daur ulang plastik telah dilakukan oleh beberapa industri yang memang memusatkan perhatiannya terhadap problem sampah plastik. Pemulung yang banyak tersebar memunguti sampah plastik yang dijual ke beberapa pabrik industri yang melakukan daur ulang. Namun tak semudah itu sebab tidak semua plastik impor bisa didaur ulang.

Jumlah sampah plastik impor sekitar 3000 ton per bulannya dan hanya 60 persen saja yang bisa didaur ulang. Dari sisa yang 40 persen tersebut 10 persennya mengandung bahan beracun dan materi berbahaya yang dapat mengakibatkan penyakit liver, kanker dan hipertensi.

Di lain pihak Pranamuda Y. Tokiwa dari Institut Riset Sumber Daya Biologi, National Institute of Advanced Industrial Science and Technology, Tsukuba, Jepang mengusulkan sebuah alternatif menarik.

“Kami menemukan cara dengan memanfaatkan bahan tropis, yaitu tepung sagu dan singkong sebagai bahan campuran plastik polimer dan policaprolactone (PCL) dalam melebur sampah plastik,” kata Pranamuda.

Dengan penggunaan campuran itu telah terbukti dalam studi kasus yang dilakukannya bahwa bahan polimer seperti polyhidroxybutyrate (PHB), PCL, polybutylene succinate (PBS) dan polylactide (PLA) dapat melebur dalam tanah tanpa menghasilkan zat yang berbahaya seperti toxin.

“Mikroorganisme dapat meleburkan polimer secara perlahan. Setelah 14 hari terjadi peleburan sebanyak 60 persen terhadap bahan polimer yang telah dicampur dengan bahan tepung sagu dan singkong,” penjelasan Pranamuda.

Teknologi peleburan sampah plastik ramah lingkungan atau enviromentally degradable plastics (EDPs) dari Pranamuda hanya salah satu alternatif dari banyak cara yang bisa dilakukan dalam memerangi masalah sampah plastik. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s