Berkeliling Dunia Dengan Taksi Bertenaga Matahari

Berbeda dengan Jakarta, sudah beberapa hari ini Bali terasa panas sekali. Terik matahari seperti memanggang permukaan tanah. Membuat silau pandangan yang tak memakai kacamata hitam.

Panas itu juga membuat beberapa manusia di Bali sedikit menggerutu. Bagaimana tidak, panas itu seperti tak ada ampun. Bahkan untuk orang-orang Asia sekalipun, suhu rata-rata setinggi 30 derajat celcius seperti itu jelas terasa mengganggu.

Tapi mungkin, ada satu orang yang malah senang dengan kondisi ini. Louis Palmer namanya. Pengendara taksi berbahan bakar matahari yang akhirnya tiba juga di Bali, setelah menempuh perjalanan kurang lebih sejauh 14.000 kilometer dari tempat tinggalnya.

Kata mister Palmer yang saya temui di siang panas, Jumat (7/12) kemarin. Ia dan krunya harus menempuh jarak sejauh itu, dari kota tinggalnya di Swiss sampai Bali. Tepat pada saatnya, ketika Konferensi Perubahan Iklim digelar di Bali.

”Saya berkeliling dunia dengan mobil bertenaga matahari ini,” ucapnya memulai bercerita. ”Dan sekarang kami berhenti di Bali khusus untuk hadir di Konferensi mengenai Perubahan Iklim ini.”

Mobil yang ia bawa sekilas mirip kendaraan futuristik dengan gerobak dibelakangnya. Kendaraan itu hanya setinggi dada lelaki dewasa, dan sepanjang enam langkah kaki orang Asia. Dengan warna dominan putih bergaris biru, kendaraan masa depan ini sempat menarik perharian para peserta konferensi.

”Saya ingin menunjukan kepada orang-orang bagaimana kendaraan ini dapat bergerak dengan hanya memakai kendaraan matahari,” tambahnya. ”Dan bahkan bisa mengelilingi dunia dengan hanya energi tersebut.”

Kendaraan itu sendiri secara teknis menyimpan matahari, melalui panel surya dibagian mirip gerobak dibelakangnya. Tapi jangan bayangkan sebuah gerobak seperti mirip milik petani di Indonesia. Gerobak itu berbidang datar di permukaannya. Dengan teknologi photovoltaik diatasnya. Dengan teknologi itu ia menyimpan energi lewat sebuah aki kering. Energi yang disimpan pada aki itulah yang dipakai sebagai pendorong maju mobil.

Mungkin tak akan ada yang mengira, kalau mobil ini ternyata bisa maju hingga kecepatan 90 kilometer perjamnya. Itu saya buktikan sendiri, setelah ikut naik mengendarai mobil itu pada sebuah kesempatan yang diberikan.

Sempat terasa aneh juga ketika ingin memasuki kokpit kendaraan. Tak seperti mobil biasa, kaki di kokpit harus dijulurkan kedepan karena tak ada ruang untuk kaki menekuk. Posisi atap kendaraan juga sedemikian pendeknya, sehingga hanya pas saja dengan tinggi badan rata-rata.

Pandangan kedepan, nampak jelas sekali. Karena kaca yang dipakai memiliki ruang persegi lebih luas dari kaca depan mobil biasa. Bagian tengah kaca agak meruncing ke depan, mengikuti bentuk badan bagian depan kendaraan yang tampaknya dimodifikasi sesuai fungsi ergonomis membelah angin.

Kendaraan ini juga tanpa gigi perseling. Cukup menginjak pedal gas, dan mengatur rem maka mobil dapat maju dan berhenti sesuka hati. Kemudi dibuat tak jauh berbeda dengan yang sudah dikenal sebelumnya, hanya kelihatan lebih kecil dengan diameter kira-kira satu setengah jengkal kelopak tangan.

Ketika mobil berjalan tak ada suara menggeram yang biasa terdengar pada mobil biasa. Mulus dengan tanpa suara berisik yang menggangu. ”Orang-orang disini mencari solusi pengganti energi fosil sekarang, agar bisa mengurangi pemanasan global” cerita Palmer sambil menyetir disamping saya. ””Saya ingin menunjukan kepada mereka, mobil inilah salah satu solusi dari masalah tersebut,” katanya riang.

Bagaimana tidak, dengan tanpa memakai bahan bakar minyak, jelas kendaraan ini tak akan menyemburkan asap yang mengandung karbondioksida penyebab pemanasan global. Menjadi salah satu contoh adaptasi terhadap efek perubahan iklim yang menggejala saat ini. ”Serta absolut tak mengeluarkan emisi apapun,” imbuhnya.

Uniknya lagi, bila mobil lain mengisi bahan bakar melalui stasiun pompa bensin yang ada. Dengan aki batere yang dipakai, mobil bertenaga matahari ini bisa juga diisi ulang dengan menggunakan energi hidro. Jadi bila mau isi bensin kini tak perlu ke pom bensin. Tapi tinggal nongkrong saja di pinggir sungai, dan listrik yang dihasilkan air melalui putaran rotor bisa dipakai untuk mengisi bahan bakar yang tak bisa terganti kala malam tiba.

Palmer merasa senang sekali dengan kendaraanya itu. Karena sekarang ia merasa bukan lagi menjadi bagian dari masalah. Namun malah menjadi bagian dari solusi yang bisa ditawarkan. ”Dulu dengan memakai mobil berbahan bakar bensin, saya adalah perusak lingkungan. Kini dengan mobil bertenaga matahari saya adalah pahlawan masa depan,” ucapnya sambil menyetop kendaraan tersebut dipintu gerbang Bali International Convention Center (BICC). Mempersilahkan saya turun, dan mengajak yang lain merasakan juga menjadi bagian dari harapan baru tersebut. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s