Warakas Mengurangi Pemanasan Bumi

Panas kuping ini, kalau mendengar kata Warakas. Apalagi dekade 80-an. Kampung di utara Jakarta itu ibarat kawah candradimuka tokoh hitam Indonesia. Johnny Indo, salah seorang kampiun penjahat nusantara, pernah digodog di Warakas.

Semasa SMA dahulu, paling segan kalau mau mampir ke kampung itu. Pikiran di kepala hanya gang-gang sempit, suram yang pasti ada disana. Lengkap dengan pemuda-pemuda tongkrongan, yang bisa membuat onar kapan saja.

Medio tengah Agustus 2007 lalu, akhirnya terjadi juga pertemuan pertamakali saya dengan kampung Warakas. Meskipun udara teramat terik menerima, perjalanan ke kampung tersebut tetap dilakukan.

Namun betapa terkejutnya kala deretan gang ‘hijau’ ternyata ada di Warakas. Sama sekali bukan seperti pemikiran yang ada. Tak ada kesan kumuh disana. Gang-gang terlihat rapai, dengan berbagai tumbuhan menghijau.

Di salah satu gang, terlihat gapura menghias. Tumbuhan dalam pot besar menghias di kiri dan kanan gang. Gang teduh itu dengan juntaiannya yang panjang, langsung menghela imajinasi buruk yang ada.

Seorang ibu gemuk, tampak menyapa dengan riang. Tampaknya ia, senang sekali dengan kehadiran kami. Ibu itu tak banyak bicara, selain mengantarkan pada seorang lelaki bernama Oto Muchtar. Ia seorang pria kurus dengan kacamata bundar. Pak Oto tinggal di Rt 2/Rw 5. Dengan bersemangat ia menceritakan hal ihwal makin rimbunya wilayah mereka.

“Kami mulai menanam dari tahun 2000,” tutur Oto dibawah pohon mangga besar. “Semua berawal dari swadaya,” tambahnya sambil menunjukan beberapa tumbuhan di batas pagar luar rumah-rumah disana.

Beberapa anggrek terlihat tumbuh subur. Juga tumbuhan semak dengan daun-daun tak berapa besar, menghiasi.

Ibu gemuk yang tadi menjelaskan darimana asal pupuk mereka. Katanya itu merupakan kompos dari daun-daun tumbuhan yang pernah ada disana.

Ternyata warga kampung Warakas kini mengumpulkan sampah organik mereka dalam satu titik pengolahan. Salah satunya berada di Rt 10/Rw 11. di wilayah itu Pak Wastiman, setia menjaganya.

“Dulunya tanah ini tempat sampah liar, sekarang kami rubah menjadi lokasi pengkomposan sampah,” ujar Wastiman sambil menunjukan proses komposasi yang dilakukan.

Beberapa kotak pengolahan berlapis semen tampak terlihat. Selebar setengah satu kali satu meter. Ada tiga kotak paling tidak disana. Tampaknya sampah organik diolah menjadi pupuk dengan cara mengaduk-aduk sampah saja. Tampak serasah daun kehitaman memenuhi salah satu kotak.

Masalah pupuk tampaknya memang bisa tertutupi, dengan adanya lokasi pengomposan alami tersebut. Namun masalah justru timbul pada pembagian air. “Susah membagi air keluarga untuk banyak keperluan,” tutur seorang ibu-ibu yang bersedia mengantarkan kami melihat contoh rumah kecil di loaksi padat namun tertata dengan rapih dan bersih.

Masalahnya pasokan air juga dibagi untuk mandi, keperluan rumah tangga dan sebagian kini merelakan sebagian air milik mereka untuk menyiram bunga. “Susah kalau mau pakai air got, rasanya tak tega,” ujar ibu berjilbab itu lagi.

Keinginan mengurangi nilai buruk kemudian hadir menghiasi pembicaraan kami. Ibu itu sendiri merasa terus-terusan gerah, bila Warakas terus dianggap ‘hitam’ seperti itu. sedikit demi sedikit warga disana berinisiatif menghilangkan stigma tersebut. Gang-gang kemudian diterangi. “Agar anak-anak muda yang nongkrong dapat mudah dilihat,” papar ibu itu.

Kemudian tiap keluarga juga diwajibkan menanam tumbuh-tumbuhan di areal kosong rumag mereka. “Ada juga yang ngeyel tak mau menanam. Akhirnya mendapatkan sangsi sosial juga,” katanya.

Sistem subsidi silang kemudian menjadi tehnik suksesnya keinginan ini. “Bagi yang tak mampu membeli bunga, akan diberikan bibit oleh keluarga lain yang mampu,” urai ibu itu.

“Kalau tak punya pot, kami biasanya berinisiatif membuatkan dengan bahan daur ulang,” tambahnya.

Perkataan itu segera terbukti, ketika kemudian saya melihat tembok yang tertempel pot tanaman dari botol karbol yang tak terpakai.

Deretan bahan daur ulang juga banyak terdapat di rumah pak Nana. Dimana ia tinggal disebuah gang sempit yang menjadi anak gang utama. Menuju rumah pak Nana perlu berjalan di sebuah gang selebar satu setengah kali bahu saja. namun ketika telah menembus selama sepuluh langkah. Bukannya kesan semrawut yang ada. Justru mirip taman kecil, yang tak kalah menarik dari sebuah kompleks rumah kluster berharga ratusan juta rupiah.

Pohon-pohon bernilai tinggi seperti Adelia juga hadir di gang sempit depan rumah pak Nana. Berkumpul pada satu titik lebar di pojok luar. Di samping kiri dan kanan pintu rumah, ada tumbuhan bonsai unik, yang menyegarkan. Jadi meskipun hari terasa terang sekali hari itu, langsung sirna melihat kompleks kecil ini.

“Pak Nanan memang dekorator yang baik untuk bunga-bungaan. Sayang ia hanya kurang mampu membeli banyak tumbuhan,” bisik ibu itu.

Dengan adanya niat bersama itu, paling tidak delapan rukun warga di Warakas kini memiliki gang terhijau yang pernah ada disana. Tiap-tiap depan rumah penuh rimbun dengan tumbuhan. Pak Oto dengan bangga terus menemani kami melepas lelah di bawah pohon mangga lagi. Sambil menghela napas panjang, ia berharap usaha ini bisa bermanfaat untuk orang banyak. “Selain juga untuk mengurangi pemanasan bumi,” katanya bangga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s