Pelatihan Massal Keadaan Darurat Genting Perlu Dilakukan

Pelatihan untuk menghadapi keadaan darurat perlu dilakukan. Baik secara massal maupun terorganisir perindividu maupun instansi. Pelatihan tersebut diharapkan bisa menurunkan resiko kerugian dari berbagai kejadian darurat yang makin kerap terjadi di masyarakat saat ini.

“Pelatihan menghadapi keadaan darurat atau P3K pada dasarnya perlu diketahui masyarakat. Mengingat makin tingginya keadaan darurat yang harus dihadapi masyarakat saat ini,” ujar Lody Korua dari Global Rescue Network (GRN), Rabu (22/7/2009).

Kejadian-kejadian darurat seperti bom yang menimpa Jakarta, kecelakaan di jalan raya, banjir bandang disungai-sungai, gempa bumi atau tsunami, dan lainnya diperkirakan makin meningkat. Untuk mengefektifkan proses penyelamatan tidak hanya bisa bergantung bantuan pemerintah. Oleh karena itu diperlukan peran dan partisipasi masyarakat.

“Dengan mengetahui dasar-dasar penyelamatan darurat, banyak resiko kerugian seperti hilangnya nyawa seseorang bisa dikurangi,” tambah Lody.

Pelatihan-pelatihan tersebut menurut Lody sudah saatnya dilakukan secara massal dan berkesinambungan. Karena dengan cara tersebut, efisiensi biaya pelatihan bisa dilakukan.

Cipto Haryabri, Ketua Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) juga menyetujui perlunya pelatihan keadaan darurat atau P3K, di kalangan masyarakat kembali diefektifkan.

Menurut Cipto, bukan hanya karena bom yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu, baru kita melakukan pelatihan keadaan darurat, namun banyak pemicu lain yang diperkirakan bisa menjadi tolok ukur perlunya pengetahuan keadaan darurat bagi individu di Indonesia.

“Pelatihan secara massal bisa dilakukan dengan mengefektifkan organ-organ yang sudah ada,” urai Cipto, pada hari yang sama.

“Pelatihan juga bisa dilakukan dengan memasukan unsur-unsur pengetahuan keadaan darurat melalui berbagai pelatihan yang akan dilaksanakan,” paparnya.

Sementara itu menurut data kepolisian pada satu semester pertama pada 2009 ini, jumlah kecelakaan kendaraan bermotor mencapai 19.000 kasus. Pada periode yang sama tahun lalu berjumlah 18.000 kasus. Dengan demikian, terjadi kenaikan 1.000 kasus, 30% di antaranya berasal dari kasus kecelakaan sepeda motor.

Jumlah korban akibat bencana lain, juga terhitung besar di Indonesia. Bencana karena kejadian alam, terhitung memiliki korban paling banyak. Dari korban tsunami Aceh dan Nias tahun 2004, ribuan korban meninggal dunia. Belum lagi bencana karena rusaknya infrastruktur, karena kecerobohan manusia, seperti kasus Situ Gintung yang memakan korban 77 jiwa melayang. Belum lagi berbagai bencana alam yang akan menimpa karena rusaknya lingkungan dan perubahan iklim. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s