Ekspedisi Sager Petakan Wilayah Tsunami Barat Sumatra

Kejadian gempa kini dipercaya memiliki modus efek domino. Seperti juga orang yang duduk berderet. Satu bergoyang, yang lain juga akan bergoyang.

Cobalah duduk atau berdiri berjejer dengan beberapa orang lain. Kemudian mainkan games gempa, dimana seorang diantaranya bergoyang secara acak. Secara alami, deretan orang lain akan terpicu untuk bergoyang. Meskipun akan terlihat acak. Paling tidak kita menemukan asumsi, kemungkinan kejadian gempa akan terjadi lebih potensial di titik dekat dengan gempa sebelumnya.

Untuk memahami kemungkinan tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Laboratorie de Geosciences Marines, Institute de Physique du Globe de Paris (IPGP) berencana mengadakan ekspedisi kelautan di wilayah barat Sumatera 8-22 Juli ini. “Tujuan ekspedisi ini untuk memahami struktur geologi zona seismogenik dan proses geodinamika yang memicu gempa di kawasan sekitar Simeuleu dan utara Aceh,” urai Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Hery Hardjono di Jakarta, Juli 2006 lalu.

Dengan cara ini juga, paling tidak analisa penyebab gempa akan diketahui. Selain juga yang lebih penting merupakan analisa peramalan akibat dari gempa dengan kekuatan serupa.

Serenceng alat sudah disiapkan. Terpasang dan siap dipakai, diatas kapal riset terbesar di dunia milik Perancis, Marion Dufresne, yang akhir minggu lalu merapat di dok Tanjung Priuk guna keperluan ekspedisi ini.

Tak pelak, alat-alat canggih seperti Multibeam Echo Sounder (multisinar) untuk pemotretan tiga dimensi dasar laut, penembak udara (airgun) dan Ocean Bottom Seismometer (OBS) disisipkan dalam ekspedisi ini. Dengan alat itu paling tidak tiga target utama ekspedisi, yaitu survei barimetri (topografi dasar laut), survei medan gravitasi dan survei medan magnet akan terlengkapi.

Seperti piranti multisinar. Dengan posisi perangkat di bagian bawah kapal. Jelas memudahkan sinar leluasa melihat dasar laut, hingga mencapai sudut 75 derajat. Dengan kemampuannya menjangkau hingga enam kilometer ke dasar laut, alat ini akan memotret seluruh permukaan yang dilewatinya. Dan jadilah data dasar topografi dasar laut, seperti yang diinginkan.

Alat-alat lain juga tak bisa diremehkan. Yang jelas ekspedisi yang terbagi dalam dua sessi ini, yaitu Sumatera – OBS Cruise dari 8 Juli hingga 3 Agustus nanti dan sesi Tsunami survey dari tanggal 12-22 Juli, secara kasat mata memang menjanjikan berbagai data yang ditargetkan.

Indonesia sendiri mengirimkan enam penelitinya dalam ekspedisi ini. Total ada 26 peneliti yang berasal dari Perancis, Inggris, India dan Indonesia di dalam kapal tersebut.

Sesuai dengan tajuknya, kedua instansi kemudian menamakan ekspedisi ini SAGER, kependekan dari Sumatera After Great Earthquake.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s