Bioteknologi Berpotensi Selamatkan Lingkungan

Dari satu jenis tumbuhan, bisa terdapat ribuan mikroba di dalamnya. Sejauh ini penelitian mengenai mikroba dalam tumbuhan, terus menunjukan potensi dalam ilmu farmakologi. Sementara potensi tersebut terus dicari, sekarang kita kehilangan hutan seluas lima lapangan sepak bola tiap menitnya.

Ilmu pengetahuan dengan alam tak akan bisa dipisahkan. Berbagai percobaan penelitian, kadang juga harus menghamba pada pengetahuan alam. Ratusan bahkan ribuan penelitian yang ada sekarang, bisa dipastikan berupaya mengolah hasil-hasil alam, memanfaatkan sistem-sistem yang berada didalamnya, mengelola dan menggunakan kemampuan alam untuk kemaslahatan manusia.

Tak percaya? Lihat hasil-hasil teori Charles Darwin. Tak mungkin ia berasumsi mengenai rantai kehidupan tanpa keseriusannya mendalami ilmu tentang manusia dan hewan. Sebut lagi yang lain, Newton misalnya. Dengan kemampuannya memahami gaya tarik menarik bumi, dan memanfaatkan fenomena jatuhnya apel dari atas pohon, maka lahirlah teori gravitasi. Lalu bagaimana dengan Wright bersaudara, yang terinspirasi dengan burung sebelum mereka menciptakan prototipe pesawat terbang. Siapa lagi yang lain? Alexander Graham Bell, Archimedes, Einstein bahkan Leonardo da Vinci sang inspirator prototipe sekalipun memanfaatkan media alam, untuk dasar teori-teori mereka tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemudian pemanfaatan pengetahuan mereka, kini jelas dimanfaatkan manusia. Louis Pasteur dengan penicillin-nya mampu meminimalkan tingkat kematian karena infeksi. Peran para peneliti ini sesungguhnya amat besar bagi perbaikan kualitas hidup manusia di muka bumi.

Namun ada satu bagian lain, yang sesungguhnya memiliki peran sama baiknya dengan peneliti. Yaitu alam berserta isinya, yang kalau tak dijaga keberadaan isi dalamnya, bisa membuat kita merugi ratusan ribu kali kala tak memanfaatkannya. “Padahal kalau kita tahu, banyak sekali yang bisa kita manfaatkan dari alam untuk kemaslahatan umat. Seperti bioteknologi salah satunya,” ungkap Umar Anggara Djenie, Ketua LIPI, pada perbincangan dengan wartawan, Senin (29/5/2006) kemarin.

Melalui bioteknologi, maka berbagai senyawa kimia maupun mikroba di dalamnya bisa terdeteksi. “Dan hasil senyawa kimia dari tiap tumbuhan atau mikroba tersebut bisa berpotensi menghasilkan obat,” urainya.

Bukan omong kosong, beberapa peneliti dalam negeri sendiri mengakui hal ini. Seperti presentasi yang dilakukan Adi Santoso, peneliti bioteknologi dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Menurutnya kalau kita bisa memaksimalkan pengetahuan kita pada pencarian dan pengetahuan pada sumber daya alam. Mungkin kita bisa meminimalisasi keborosan ekonomi, yang terjadi pada proses penyembuhan sebuah penyakit.

Seperti contoh penemuan beliau pada unsur hEPO (Human Erythropioetin) yang mempengaruhi pembentukan sel darah merah. Pada penelitiannya tersebut, Adi menemukan bahwa unsur hEPO yang selama ini diperkirakan hanya bisa dihasilkan dari kultur sel mamalia, ternyata bisa dihasilkan dan diproduksi dengan lebih efisien pada sel Yeast (Pichia Pastoris). Yeast sendiri dikenal sebagai ragi yang dihasilkan dari tumbuhan.

Dengan hasil ini paling tidak Adi membuktikan, bahkan kedepannya para penderita penyakit anemia, bisa saja memiliki alternatif obat yang lebih murah, karena diproduksi dari agen yang lebih mudah didapat. “Dengan bukti tersebut, maka terobosan baru untuk memproduksi hEPO dan obat-obat lain yang berbasis pada bioteknologi sangat dibutuhkan,” ucapnya tegas.

Lain lagi penelitian Ines Atmosukarto, peneliti dalam bidang biologi molekuler. Menurutnya dari identifikasi 2600 jamur dan 1100 bakteri endofit yang dilakukannya, ternyata paling tidak terdapat 21 jamur yang bisa menghasilkan senyawa anti oksidan. Dimana diketahui senyawa ini bermanfaat sebagai penyeimbang tubuh dalam mencapai kesehatan.

“Selain itu paling tidak terdapat lima bakteri yang berpotensi untuk mendegradasi senyawa kimia nitril, 294 bakteri lain yang berpotensi sebagai herbisida alami dan lebih dari 300 jamur lain yang berpotensi sebagai senyawa anti infeksi,” tambah Ines, pada kesempatan yang sama.

Semua hal ini paling tidak menunjukan kalau sebenarnya banyak yang bisa dapatkan dari tumbuhan. Ines dan Adi Santoso, hanya memberikan sedikit petunjuk pada kita. Sementara ribuan bahkan ratusan ribu potensi masih berkelana liar di luar sana. Hidup di tanaman-tanaman, yang mungkin bisa saja akan hilang saat tumbuhan tersebut termasuk dalam bagian hutan yang harus dimusnahkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s