Akuakultur Kembangkan Budidaya Ikan

Akuakultur intensif yang dicirikan dengan adanya pergantian air, peningkatan oksigen dan pemberian pakan buatan (pellet), mengakibatkan adanya intervensi pada alam. “Pemaksaan terhadap alam sampai 67.000 kali lipat dari proses alamiah mengandung konsekuensi limbah yang tidak boleh diserahkan begitu saja ke alam,” ungkap pakar akuakultur dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Enang Haris Surawidjaja, pada Antara Jumat (19/5/2006) lalu.

Lebih jauh Enang mengemukakan, analisis perkembangan akuakultur Indonesia menunjukkan fenomena piramida “thropic level”. Ini terbukti, dimana kesuburan perairan menjadi faktor pembatas. Dalam kondisi tersebut, ikan karnivora (seperti kakap) relatif sedikit, disusul dengan omnivora (ikan mas, udang) dan selanjutnya detritivora (pemakan organik yang membusuk seperti ikan belanak dan lele) dan herbivora (ikan koan) yang terbanyak.

Menurut dia, dilihat dari sisi ilmu nutrisi ikan, ternyata protein digunakan sebagai sumber nutrien dan sumber energi bagi semua jenis ikan. Akibatnya, kebutuhan protein bagi ikan herbivora hampir sama saja dengan kebutuhkan ikan omnivora dan karnivora. “Dengan perkataan lain, ikan apapun jika dibudidayakan secara intensif akan serupa dengan ikan karnivora,” katanya.

Sedangkan bila ditinjau dari sisi bio-energetika, ternyata bahan kering yang diretensi jadi daging hanya sebagian kecil, sementara sebagian besar menjadi limbah. “Akuakultur berbasis ‘thropic level’ pada prinsipnya memanfaatkan semua nutrien limbah budidaya, yang jumlahnya jauh lebih besar ketimbang yang diretensi jadi daging,” katanya.

Jadi menurutnya akuakultur berbasis “thropic level” akan menghasilkan komoditas utama. Ia menjelaskan, ikan dengan ongkos produksi yang murah dalam jumlah yang besar inilah yang akan banyak menyerap tenaga kerja dan menyediakan pangan protein bagi orang banyak, mengurangi biaya produksi komoditas utama sehingga berperan meningkatkan daya saing ekspor.

Sebagai pemakan limbah, ikan-ikan tersebut akan berperan sebagai “cleaning service” yang akan meningkatkan kelestarian lingkungan perairan.

Enang mengharapkan agar akuakultur Indonesia di masa datang mampu menyinergikan keempat sub-sistem agribisnis yang ada. Pemerintah juga diharapkan bisa mengembangkan akuakultur berbasis “thropic level” di setiab sub-urban. Karena kaum urban adalah pasar domestik sekaligus akses ke pasar internasional. Pesannya yang terakhir hanyalah agar negeri ini mulai melaksanakan “revolusi breeding” atau dalam waktu sesingkat-singkatnya menguasai dan mendiseminasikan teknologi “artificial propagation” bagi sebanyak-banyaknya komoditas dari berbagai “thropic level”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s