Ilmu Sosial Bisa Tekan Perdagangan Anak

Kehadiran ilmu sosial untuk merubah sistem hubungan dan pandangan sosial, sepatutnya bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengurangi angka perdagangan manusia yang makin mengkhawatirkan hingga April 2006 ini.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara terbesar penduduknya di dunia. Data terakhir dari Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2000 lalu menunjukan, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia mencapai 220 juta jiwa jumlahnya. Dari total tersebut diperkirakan 40 persen berada dalam usia anak-anak.

Jumlah yang cukup besar tersebut kini terbilang rentan, dalam praktek perdagangan manusia (traffiking). Catatan dari badan dunia Unicef menunjukan paling tidak di Asia terdapat sekitar 40.000 anak yang menjadi korban perdagangan manusia. Data dari Mabes Polri sendiri mendeteksi 1.683 kasus perdagangan manusia pada tahun 2000 lalu.

Salah satu korban yang paling rentan dari masalah ini adalah anak perempuan. Karena motif perdagangan manusia kebanyakan berhulu dari orientasi seksual. Dengan mengambil untung dari nilai virginitas, yang memang hingga kini masih dianggap barang mahal di negeri seperti Indonesia. Sementara pola hirarkis turut mendukung keberhasilan upaya penjulan tersebut.

“Pola pandang mengenai hirarki seperti ini yang seharusnya diubah dengan menggunakan ilmu sosial,” ungkap Johanna Debora Imelda, di Jurusan Kesejahteraan Sosial FISIP UI, pada acara seminar mengenai Trafficking di Indonesia : Pencegahan dan Penanggulangannya dalam Usaha Kesejahteraan Sosial, yang dilakukan di Kampus UI Depok, 24-25 April ini.

Maksud Johanna adalah pola hirarki antara orang tua, sebagai pihak yang paling benar. Serta anak perempuan sebagai mahluk lemah dan tidak bertanggung jawab, sudah seharusnya dikikis habis.

“Bahkan kalau perlu paradigma mengenai virginitas dirubah juga,” tambahnya. Karena dengan tetap memperlakukan hal tersebut sebagai sebuah kultus, malah menempatkan anak, khususnya perempuan sebagai bahan perdagangan manusia yang bernuansa eksploitasi seks.

Ini terbukti dari tingginya penjualan anak perempuan dengan sistem ijon. Dimana si anak dijual ketika usianya masih sekitar 10 tahun. Sama juga seperti tumbuhan yang dibeli dengan sistem ini, yang akan menjadi hak milik keseluruhan saat panen dan di beli saat masih ijo. Anak-anak perempuan itu juga seperti itu. Sistem ijon membuat sang anak seperti tumbuhan yang akan dinikmati upaya kerja kerasnya, saat ia mencapai kondisi fisik yang layak untuk menjalani hubungan badan.

Sementara orang tua kadang malah mendiamkan masalah ini, meskipun mereka tahu anaknya hanya dijadikan alat pemuas nafsu ketamakan germo pada material. Kecenderungan yang ada, orang tua malah mendiamkan anaknya dan menjadikan anak-anak itu sebagai penjamin, jika mereka membutuhkan uang.

“Sistem hubungan sosial kita juga turut mempengaruhi masalah ini,” lanjut Johanna. “Dimana anak dianggap sebagai insan yang harus menuruti kemauan seseorang yang lebih tua.”

Sistem patriakal yang seperti ini, serta sistem sosial yang hirarkis tersebut yang tampaknya perlu dikikis habis. Karena secara langsung atau tak langsung, anak-anak terus akan menjadi alat eksploitasi. Tanpa ada seorangpun menolong.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s