Elektromagnetik Jelaskan Buruknya Kualitas Air di Aceh

Teknologi elektromagnetik yang dibawa oleh helikopter, ternyata mampu menjelaskan betapa buruknya kualitas air di timur laut Aceh paska tsunami. Selain juga memetakan kondisi geologi tanah di permukaannya.

Penelitian geofisika, baik secara langsung maupun dengan menggunakan helikopter, dilakukan pertama kali di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tahun 2005 lalu. Adapun BGR (Bundesanstalt fur Geowissenschaften und Rohstoffe), sebuah lembaga pemerintah Jerman yang melakukannya. Lembaga yang bermain di kajian ilmu bumi dan sumber daya alam tersebut, mengumpulkan data komprehensif mengenai sumber daya air di daerah-daerah Aceh yang terkena tsunami. Dengan ilmu yang mereka miliki mereka meneliti peresapan air laut dan sumber mata air dangkal dengan menggunakan elektromagnetik dari helikopter.

“Dari penelitian terakhir kami, hampir dapat dipastikan air laut telah merembes hingga ke kedalaman 50 sampai 60 meter,” urai Dr. Uwe Meyer, dari BGR saat menjelaskan hasil penelitian mereka di Jakarta (16/3/2006).

Hal itu menurut Meyer dijelaskan dari kesimpulan resonansi elektro magnetik di sepanjang garis pantai Pidie, yang diselusurinya dengan helikopter bermuatan perangkat elektromagnetik. Jangan bayangkan perangkat tersebut serupa sinar atau muatan besar di dalam tubuh helikopter. Perangkat elektromagnetik yang dimaksud lebih mirip kapsul berbentuk besar, yang diikat tali dan digantungkan di bawah helikopter. Caranya gelombang elektromagnetik diaktifkan saat helikopter melintas di area yang dijadikan target. Kemudian respon hidrogeologis yang menguap ke udara di tangkap kembali, serta didefinisikan dalam bentuk angka-angka. Semakin tinggi angka yang ditangkap, maka semakin besar kemungkinan air telah terkontaminasi.

“Dari alat tersebut kami juga menemukan masalah tingginya kandungan mineral di air permukaan, terutama arsenida,” tambahnya. Karena penampakan ini maka menurutnya perlu beberapa tahun sebelum sumber air tawar tersebut dapat digunakan. Itu kalau kita berharap terjadi proses alami pembersihan air tawar dengan air hujan dan sistem penyaringan alami. “Sekarang kita tinggal berharap masih adanya sistem penyaring air alami yang produktif di kedalaman paling tidak 100 meter,” tambah Meyer.

Dengan kesimpulan tersebut dapat dikatakan sumber air tawar di keseluruhan kawasan pantai Pidie bisa dikatakan tak layak konsumsi. Hal ini yang kemudian juga menjadi dilema. Sebab tanpa air tawar, bisa dipastikan manusia hanya akan hidup hingga tiga hari ke depannya.

Pencarian Air

Pilihan lain untuk memasok kebutuhan air tawar di Aceh saat ini, menurut Meyer adalah dengan pencarian sumur air tawar dangkal. Biasanya sumber sumur ini bisa diselusuri dengan pengamatan pada sumber air permukaan. Hal ini juga dijelaskan Meyer dengan menggunakan peta resistivitas listrik yang mereka miliki.

“Dengan peta ini jelas kita bisa menunjukan lokasi-lokasi terpisah dimana air tawar masih dapat ditemukan pada kedalaman yang dangkal,” urainya. “Kecuali pada lapisan-lapisan tanah atas yang akan tergerus oleh air hujan, kita harapkan tidak akan ada perubahan distribusi air tanah dalam tahun-tahun mendatang. Oleh karena itu, peta-peta yang dihasilkan tersebut akan sangat berguna untuk kepentingan jangka panjang,” katanya.

Karena dengan peta tersebut juga bisa didapatkan informasi geologis, seperti jumlah batu vulkanik dan jenis lapisan tanah. Hingga data terebut bisa digunakan untuk perencanaan pemanfaatan lahan, menemukan lokasi penampungan dan pembangunan danau buatan yang bisa dipakai dalam keadaan darurat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s