Jendela Informasi dalam Tempurung Keterbatasan

Banyak orang bilang, bahwa buku adalah jendela informasi pengetahuan. Dengan buku bisa kita bicara banyak, karena saking pintarnya. Dengan buku juga kita bisa belajar menganalisa masalah, dan menemukan jalan keluar. Mirisnya, hal itu sulit kita temukan di daerah. Karena buku adalah barang paling sulit ditemukan di dunia.

Tak percaya? Mari kita temui Gunawan. Salah seorang pengelola perpustakaan Rumah Pelangi di Dusun Kadirojo, Kelurahan Muntilan Jogjakarta. Pria berwajah ceria yang kini bisa di temui disela acara World Book Day, yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional (2-5/3/2006) ini, mengatakan kalau untuk menambah koleksi buku mereka saat ini bisa dikatakan sesuatu hal yang mustahil. “Banyak surat permohonan sudah kami lakukan ke beberapa penerbit, seperti Kanisius misalnya. Tapi tak pernah ada respon yang menggembirakan,” ucapnya lirih. Padahal menurutnya buku-buku amat ia perlukan untuk menambah gairah anak-anak yang sering datang ke sanggar bacanya.

“Sekarang jumlah buku kami hanya sekitar 700 saja. Itu sangat sedikit. Dan juga tak pernah bertambah semenjak sanggar ini kami dirikan tahun 2001 lalu,”ceritanya. Mulanya lelaki berambut putih ini agak bahagia, saat beberapa teman menambah sedikit demi sedikit bukunya. Tapi kemudian semenjak tahun lalu, semua tiba-tiba seperti terhenti begitu saja. “Mungkin karena teman-teman juga sudah kehabisan stok buku untuk diberikan,” katanya.

Sekarang, dengan kondisi hidup yang lebih berat di Indonesia. Serta tak adanya dukungan dana dari manapun untuk menjalankan sanggar tersebut, otomatis kehidupan sanggar baca Rumah Pelangi cenderung stagnan. Untuk membeli sendiri buku-buku baru, juga sangat berat. “Untung beberapa anak peminat buku disini agak kreatif. Banyak yang suka buat-buat aksesori khas gaya mereka. Dijual sedikit demi sedikit, seperti dipameran ini. Hasilnya akan kami gunakan untuk operasional dan sedikit sisa untuk beli buku baru,” urai Gunawan, sambil terus garuk-garuk kepala, mungkin pusing memikirkan ongkos pulang mereka nanti ke Jogjakarta.

Berat Ongkos Kirim

Lain kisah Gunawan. Lain juga cerita Trini Haryanti, pengelola taman bacaan Cindelaras, Rembang Jawa Tengah. Menurut cerita wanita agak gempal ini, sulitnya mendapatkan donor buku dari para penerbit, baru satu masalah yang harus dimiliki para pengelola buku daerah seperti mereka. “Yang lebih sulit itu mas. Kalau buku sudah didapatkan. Kami juga bingung masalah ongkos kirimnya,” katanya. “Bayangkan kalau kami harus membiayai sekitar 300 buku dari Jakarta hingga Rembang. Bisa ratusan ribu biayanya. Uang darimana. Sedangkan untuk menjalankan operasional saja kembang-kempis,” celotehnya, pada kesempatan yang sama.

Hasilnya sekarang nasib taman baca mereka tak jauh-jauh berbeda dari taman baca milik Gunawan. Stok buku tak bertambah, dan kegiatan menjadi stagnan. “Banyak pengunjung sekarang malas datang lagi ke perpustakaan. Karena bukunya itu-itu saja,” timpal Tini lagi. Padahal menurut ia seharusnya perpustakaan menjadi sentral lokasi kegiatan yang berhubungan dengan buku secara keseluruhan. Sebenarnya perpustakaan selain bisa dijadikan sebagai tempat menambah pengetahuan melalui bacaan, juga bisa dijadikan sebagai tempat untuk belajar menulis, berdiskusi atau apapun yang berhubungan dengan dunia ini. Tapi kalau pada kenyataanya, buku yang ada tak terotasi dengan baik. Dan malah membuat para pelanggannya lari. Ini sama saja  menjauhkan tujuan pengadaan rumah baca yang dikelola sebagaian orang. Karena berarti kita telah memutus kemungkinan peningkatan potensi ketertarikan seseorang pada dunia ini.

Hal ini juga yang kemudian terlontar oleh salah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Padjajaran (Fikom Unpad), salah satu pengisi gerai dipameran tersebut, yang tak mau disebutkan namanya. Pria pengajian yang tergabung dalam Himaka Library Care, ini menyatakan cukup miris juga melihat kondisi perpustakan daerah yang ada sekarang. Oleh karena itu juga kemudian ia bersama beberapa mahasiswa Unpad berinisiatif untuk mendirikan organisasi ini. “Mulanya kami sedih melihat kondisi perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah dasar dekat kampus kami,” katanya.

Selain karena jumlah buku yang tak bertambah-tambah. Juga sedih melihat kondisi perpustakaan yang seperti hidup segan, mati tak mau. “Padahal seharusnya dari muda kita diberikan pengetahuan untuk mencintai buku. Kalau banyak SD di daerah kemudian terlihat tak mengurus masalah perpustakaan. Maka sama saja kita membunuh potensi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ceritanya.

Keberadaan perpustakaan di daerah kini, memang terasa miris mendengarnya. Sebuah ironi di sela gaung pemerintah mengenai tahun ilmu pengetahuan dan riset yang jatuh pada tahun ini. Karena pada hulunya, ternyata sangat sedikit perhatian yang diberikan. Bagaimana mau riset, kalau buku tak ada. Sebuah fenomena jendela informasi yang masih dalam tempurung. Karena masih hidup dalam kegelapan terus menerus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s