Teknologi Kapal Maruta Jaya Hemat BBM

Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menimpa Indonesia saat ini, ternyata juga merupakan momok semenjak dahulu kala. Seperti pada kasus krisis energi yang terjadi pada tahun 1980 silam. Dimana harga minyak menjulang hingga kisaran US$ 14.000 perbarrel.

Kenyataan ini pada intinya cukup menohok pemerintahan saat itu. Hingga akhirnya Menristek kala itu, B.J.Habibie memutuskan memulai berbagai proyek rintisan untuk menghasilkan berbagai produk hemat BBM. Salah satunya merupakan Kapal Layar Motor (KLM) Maruta Jaya, yang disinyalir merupakan sebuah prototipe kapal kargo paling hemat BBM dan ramah lingkungan kala itu.

“Bagaimana tidak, dengan teknologi pemanfaatan tenaga angin, paling tidak menjadi sumber energi lain yang mampu secara signifikan menekan konsumsi BBM bagi kapal ini,” ungkap Gita Arjakusuma, mantan kapten kapal Phinisi Nusantara memberikan pendapatnya. Dan hal ini menurutnya terbukti dari perhitungan bahan bakar yang diperlukan kapal dengan bobot sejenis. “Bila yang lain membutuhkan hingga 3000 sampai 4000 liter perhari. Maka dengan teknologi yang dimiliki Maruta Jaya, hanya 700 sampai 800 liter BBM dikeluarkan.”

Namun keunggulan ini tampaknya tidak juga membuat banyak pihak melirik untuk memilikinya. “Padahal dengan kondisi negara kepulauan seperti Indonesia, prototipe kapal seperti ini yang paling pantas untuk digunakan,” tambah Gita lagi.

LSM Tertarik

Uniknya ditengah kegoncangan jenis kapal ini untuk tetap bertahan. Malah berbagai kemungkinan lain mendayagunakan kapal ini muncul ke permukaan. Seperti pada kejadian tsunami yang baru lalu. Keberadaan kapal ini mengundang perhatian banyak kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). “Hal itu disebabkan profil Maruta Jaya yang mirip Rainbow Warrior (kapal milik Greenpeace-red),” imbuh Gita.

Dengan penampakan seperti itu juga banyak LSM yang berkecimpung dalam program rehabilitasi tsunami, seperti Care, USA Windjammer dan Save the Children tertarik untuk memilikinya. Tak lain alasan yang dikemukakan adalah tingginya tingkat efisiensi yang bisa mereka dapatkan, dalam proses pengiriman bantuan, bila menggunakan kapal ini ketimbang lewat jalur laut. “Mungkin juga bnayak LSM yang merasa bangga dengan memiliki kapal ini, karena dengan begitu mereka bisa memperoleh publikasi dari kegiatan mereka,” ujar Gita.

Kapal Latih

Selain kalangan LSM, ternyata teknologi kapal ini kemudian terbukti bisa makin didayagunakan. Ini terbukti dengan kemungkinan dipakainya teknologi ini sebagai kapal latih. “Hal ini untuk menjawab kebutuhan sarana kapal latih yang kini makin sedikit jumlahnya di Indonesia,” ucapnya.

Dengan jumlah yang sedikit itu, membuat pembengkakan biaya yang tidak kecil jumlahnya. “Padahal hal tersebut bisa dikurangi dengan sistem pelatihan yang sesuai dan banyaknya kapal yang bisa digunakan sebagai kapal latih.”

Disinilah perlunya bangsa ini kembali menengok. Pada teknologi-teknologi kita terdahulu. Yang sebenarnya juga tak terlalu ketinggalan jaman. Apalagi disaat BBM sulit seperti sekarang. Pemanfaatan tenaga angin pada kapal, pada akhirnya meminimalkan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Ketimbang harus berpusing-pusing dengan teknologi kapal lain yang boros energi, lebih baik memanfaatkan energi sekitar. Selain hemat energi, juga bisa melestarikan lingkungan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s