Pendakian Solo di Pasir Arca

Ini adalah perjalanan yang telah lama saya rindukan. Mandiri, sendiri, dan tak berteman. Bermodal ransel yang tak seberapa besar, serta kamera berfungsi timer, saya mencoba mendaki lereng Pasir Arca yang berada di sisi barat daya Gunung Pangrango. Lereng ini, selain terkenal karena keangkerannya, juga terkenal dengan variasi medan yang harus dilalui. Dua hal ini cukuplah untuk menjadikannya sebagai ajang uji nyali saya.

Setiap orang memiliki rasa takut. Perasaan ini pula yang saya rasakan tatkala memulai petualangan ini. Ketakutan adalah penghalang yang paling besar. Intensitas rasa takut ini kian bertambah tatkala saya mendengar cerita-cerita dari remaja-remaja di pesantren Al Ikhlas, desa Pasir Muncang yang saya temui.

Tanpa belas kasihan, mereka menceritakan semua kisah tragis yang bisa mereka ingat. Mamay, santri remaja yang penuh tawa, mengatakan jalur yang akan saya lewati sangat angker. Ia pernah melihat korban dari pendaki yang tewas. Ia juga menuturkan begitu banyak pendaki yang tersasar di sana, hilang di antara lembah-lembahnya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat daging busuk pendaki yang hilang itu ketika ditemukan.

Saya memilih tak mendengarkan pendapat Mamay dan bertekad untuk meneruskan perjalanan esok pagi. Melewati deretan perladangan dan pekuburan, saya bertemu Pak Ocim, yang ternyata salah seorang tim pendukung SAR Pasir Arca dua tahun lalu.

“Pasangan yang hilang itu ditemukan di lembah Cisukabirus, salah seorang nyangsang di batang pohon batas air sungai,” ceritanya membuat bergidik.

Tapi, kembali saya pilih tak mengindahkan itu semua, dan kembali melanjutkan perjalanan, menantang gunung yang sekarang berdiri kukuh di hadapan saya.
Setiap melangkah, saya merasa tanah yang saya injak makin tinggi. Sebelum ketinggian 1.800 di atas permukaan laut, kadang masih ditemukan flat. Namun, selebihnya yang ada hanya tanah-tanah terjal. Memaksa kaki melangkah tinggi ke atas. Melewati jebakan pohon, dengan menyuruk di bawahnya. Sangat melelahkan. Namun, saya tak ingin perjalanan berhenti di sini. Saya terus berusaha memotivasi diri dalam kesendirian.

Tepat empat kontur di bawah puncak bukit 2552, saya putuskan membuka camp. Peralatan menginap saya kali ini begitu minimalisnya, selembar hammock dan ponco sebagai fly sheet. Dan dengan hati gundah saya siapkan tempat tidur saya malam ini. Ternyata tak terlalu mengecewakan tidur dengan hammock di alam terbuka, meskipun pikiran terus berpindah-pindah. Antara takut, ngeri dan khawatir, apabila hantu pasangan yang tewas di lereng ini meminta tolong pada saya tengah malam nanti.

Pertigaan pertemuan jalur Pasir Arca dan Pasir Pangrango akhirnya saya temui esok paginya. Itupun setelah mendaki 30 menit lamanya. Sekarangjalur praktis berubah karena berada di igir-igir. Di sebelah kanan saya membentang jurang yang bisa membawa kita menuju lembah Ciheulang. Dan sebelah kiri saya, membentang lereng-lereng yang memenuhi kawasan barat hingga utara Pangrango.

Saya terus berjalan saja mengikuti igir-igir menuju arah timur. Tak berapa lama membentang puncak bukit 2671. Bukit ini adalah bukit kedua dari tiga bukit yang harus dilewati. Memaksa kaki bergerak turun, membabat pakis yang menghalang dan mendaki lagi melewatinya. Belum sampai jam dua siang sudah saya selesaikan tiga bukit yang mengadang, mengantarkan pandangan pada leher Pangrango yang mulai tertutup kabut.

Dataran puncak di depan saya merupakan final dari perjalanan ini. Bila saya mampu melewatinya, lembah Mandalawangi di puncak Pangrango sana pun telah menanti. Saya kuatkan kembali hati ini, dan memulai pendakian kembali. Makan siang yang hanya berupa snack, rasanya malah mengentengkan badan ini. Saya terus mendaki dan mendaki. Sesekali berhenti untuk mengambil foto dan napas sebentar. Selain itu hanya hidangan air yang merembes keluar dari batu-batu yang mampu menghentikan langkah saya.

Akhirnya perjalanan ini mencapai puncaknya juga. Langit yang agak terbuka di atas sana menandakan makin dekatnya saya dengan Mandalawangi. Dan tanah datar, berpagar bunga Edelweiss itu akhirnya tampak juga di pelupuk mata. Menandakan akhir perjalanan pendakian, yang berarti juga awal dari perjuangan berikutnya yang lebih berat, yaitu turun gunung dengan selamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s