Membakar Hutan, Juga Perlu Perhitungan

Jangan salah. Membakar hutan bagi orang-orang adat tidak sesembarangan hasilnya. Perlu beberapa perhitungan, yang diyakini bisa menyelamatkan bagian hutan mereka yang lain. Bahkan kalau perlu harus melewati beberapa konsesi adat yang disepakati. Hasil akhirnya kurang lebih terlihat lebih baik. Karena setidaknya bagian hutan terbakar seperti yang direncanakan. Tanpa harus pusing mendengar keluh kesah negara lain, yang kebanjiran hujan asap, seperti yang terjadi baru-baru ini.

Seperti di daerah Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi. Praktek pembakaran hutan di daerah ini, menurut tetua adat di kampung, tidaklah sesederhana yang terpikirkan. Penulis yang baru-baru ini juga sempat menyambangi daerah tersebut, sempat juga melihat sendiri praktek pembakaran hutan disana. Yang secara teori maupun praktek, bila diperhatikan ternyata menyimpan nilai kelebihan tersendiri.

“Disini bila ingin membakar lahan untuk keperluan perkebunan atau lainnya harus dilaporkan dahulu kepada adat,” jelas Pak Yansen, Tetua adat desa Pulau Tengah. Dengan hal itu, menurut bapak arif ini, bisa menjadi alat pengontrol untuk sistem pembakaran tradisional yang telah diyakini secara adat dapat tetap berlangsung.

Biasanya menurut Pak Yansen, lahan yang ingin harus dibakar disepakati dahulu besarannya. “Misalnya ia memiliki lahan seluas lima hektar, maka seharusnya hanya satu hekatar yang berhak untuk dibakar,” ujarnya memberi penjelasan peraturan adat. Ini dimaksudkan agar penduduk dapat menyimpan sisa empat hektar yang lain untuk keperluan kedepannya. “Kalau tahun berikutnya, ia mau membuka lahan lagi. Maka diperbolehkan satu hektar lahan dibuka kembali. Begitu seterusnya. Dan disisakan satu hektar untuk keperluan pribadi, seperti pendirian rumah,” tambahnya. “Bila hektar keempat telah dibuka juga, maka ia bisa membakar hektar pertama untuk keperluan lain,” tambah ia lagi. Hal ini dimaksudkan agar penduduk dapat memanfaatkan lahan yang mereka miliki secara maksimal. Dan perputaran lahan, serta pemanfaatan dapat dipertanggungjawabkan.

Ia juga menambahkan bahwa proses pembakaran juga tidak boleh dilakukan sendiri. Harus dilakukan secara gotong royong. Bersama dengan masyarakat yang lain. “Sebab ada pengaturan pembakaran secara adat yang harus dilakukan,” urai pria ini lagi. “Seperti pembersihan sejauh lima meter sisi-sisi terluar daerah yang ingin dibakar. Hal ini dimaksudkan agar api tidak merembet ke daerah lain,” ujarnya.

Kebalikan Fakta

Berbeda dengan kenyataan dilapangan. Kearifan tradisional yang ditunjukan masyarakat Jangkat ternyata tak menutupi kenyataan sebenarnya. Bahwa proporsi terbesar hutan terbakar, ternyata kebanyakan berada di kawasan lahan milik masyarakt. Seperti juga yang diungkapkan lembaga WWF, tak lama berselang. Menurut mereka luas lahan terbakar terbesar, berada di lahan milik rakyat.

“Dari total 5420 titik api yang terjadi di provinsi Riau, tercatat hampir setengahnya atau sekitar 2692 titik api terdapat di dalam area perusahaan,” jelas WWF, yang kali ini diwakili oleh Fitrian Ardiansyah. “Sekitar 1114 titik api berada di wilayah HTI, 656 di HPH, 922 di kebun sawit dan 2728 di lahan perkebunan rakyat,” ujarnya.

Meskipun hingga kini belum diketahui siapa pelaku yang bertanggung jawab dalam masalah ini. namun WWF lebih memberatkan keterkaitan perusahaan-perusahaan pemilik HTI dan HPH disana, sebagai penanggung jawab terbesar dari masalah ini. Keterkaitan ini menurut mereka terbukti dari hasil pengamatan mereka, dari periode 18 Juli hingga 16 Agustus lalu. Dimana tercatat 609 titik api berasal dari konsesi perusahaan di Riau. Tercatat lahan milik PT Arara Abadi milik Sinar Mas menyumbang hingga 459 titik api, PT Edukara Indonesia milik PT Astra juga menghasilkan hingga 74 titik api. Sedangkan PT Jatim Raya Perkasa milik Group Wilmar dan PT Guntung Hasrat Makmur dan PT Agroraya Gematrans milik grup Sambu menghasilkan titik api mencapai 76 buah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s