Perlu Kearifan Berbahasa Bagi Pewarta Berita

Bagi anda yang sering mengamati media yang beredar sekarang ini, pasti kadang membaca judul berita model seperti ini “Dua laki-laki mencopet. Diketahui Massa. Digebukin. Mati Berdarah-darah”. Atau “Pemerkosa di bakar hidup-hidup”.

Kalimat-kalimat sadis seperti itu seperti sudah lumrah saja kini. Ditulis besar-besar dikepala-kepala berita. Mengisi berbagai benak dan menjadi bagian hidupnya.

Reformasi yang kebablasan, begitu ucap beberapa orang mencermati hal ini. Membuat beberapa orang seperti merasa berhak mengucapkan berbagai kata sebebas-bebasnya saja. Setiap anggota masyarakat seperti merasa berhak untuk melakukan tekanan dan penilaian subyektif dengan berlindung di balik seruan demokrasi dan kebebasan berbicara. “Padahal ini bisa mengakibatkan hilangnya memori kearifan, yang berkemungkinan menciptakan ketidak arifan kita dalam bermasyarakat,” ujar FX Rahyono, peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI, di Depok, Kamis (4/8/2005).

Pada dasarnya menurut Rahyono sebuah kata,frasa, serta kalimat pada dasarnya berpotensi menampilkan makna referensial maupun kontekstual. Secara pragmatis, setiap pembicara atau penulis memiliki keleluasaan memanfaatkan potensi makna dalam komunikasi publik. “Sebuah kata, frasa, serta kalimat yang memiliki makna kearifan berkemungkinan digunakan untuk mengungkapkan maksud ketidakarifan. Sebuah kata, frasa, serta kalimat yang tidak menampilkan makna kearifan tidak selalu meruapakan pengungkapan maksud kearifan,” ujarnya.

Ketidakarifan yang dipersoalkan oleh Rahyono merupakan tindakan pelanggaran terhadap etika dan etiket yang berlaku dimasyarakat. Padahal kearifan berbahasa dapat diwujudkan melalui pilihan-pilihan satuan bahasa yang menyatakan kesantunan. “Dalam dunia pers kearifan ini dapat diwujudkan melalui pilihan bahasa yang menyatakan sikap etis,” tambahnya. Hingga akhirnya kalimat-kalimat yang digunakan mampu menunjukan objektivitas dalampenilaian, ketidakberpihakan, penghargaan terhadap hak-hak publik, serta pertanggung jawaban dalam penyampaian informasi.

Lalu bagaimana cara mewujudkan hal tersebut?

“Dengan menggunakan tahapan analisis semantis yang berlanjut ke analisis pragmatis, aspek kearifan berbahasa dalam media massa dapat ditemukan,” imbuh Rahyono. Hal itu kemudian diungkapkannya dapat terealisasikan bila terdapat kesepadanan antara makna referensial dan kontekstual kalimat. “Hal ini juga bisa kemudian disesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan,” ucapnya.

Sekali lagi sebagai penutup ia mengungkapkan bahwa kearifan dalam bahasa tidak berkaitan dengan tindakan manipulatif dalam penyampaian informasi. Kearifan berbahasa berkaitan dengan strategi pemilihan satuan-satuan bahasa. Tindak manipulatif dalam penyampaian informasi dapat menggunakan satuan-satuan bahasa yang manapun. Baik yang menampilkan makna kearifan maupun tidak.

Kearifan adalah tanggung jawab bersama. Bahasa yang arif tidak akan hadir secara menyeluruh, jika pihak-pihak terkait dan segala peristiwa yang dihasilkan tidak menuju ke arah tersebut. sikap otoritas yang tidak arif, serta segala peristiwa yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, tentu akan memicu hadirnya kalimat yang tak arif.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s