Bioteknologi Kesehatan Harus Lebih Aktif Mengambil Peluang

Bioteknologi hingga kini dianggap sebagai sebagai jalan panjang inovasi manusia dalam memanfaatkan mikroorganisme. Dimulai pengembangannya sejak awal abad 20 melalui penemuan Fleeming pada antibiotik penisilin. Obat tersebut kemudian dianggap awalan pengembangan teknologi bioteknologi untuk kesehatan. Lantanran obat buatan Fleeming tersebut jelas berbasis rekombinasi DNA yang pertama kalinya digunakan di dunia. Di akhir abad 20, kemudian berkembang berbagai produk berbasis rekombian DNA ini. Tanaman transgenik, gene chips dan kloning mamalia, menjadi beberapa contoh produk bioteknologi modern, yang hingga kini menjadi perdebatan tak ada habis.

Di awal abad 21, perkembangan teknologi diwarnai makin canggihnya teknologi informasi. Pola kehidupan manusia yang semuala konvensional, pelahan berubah menjadi serba otomatis. Bioteknologi yang merupakan bagian dari perubahan, juga tak bisa menghindar dari perkembangan teknologi ini. Termasuk juga di dalamnya perkembangan bioteknologi bidang kesehatan. Dimana pada bidang kesehatan, penerapan bioteknologi telah menghasilkan berbagai produk. Seperti antibiotik, vaksin, hormon, kit diagnostika dan produk farmasi lainnya. Karena perkembangan yang cukup pesat itulah, maka pemanfaatan aplikasi bioteknologi pada bidang kesehatan menduduki salah satu peringkat terbesar, yaitu sekitar 70 – 80 persen.

Bagi Indonesia, pengembangan obat berbasis bioteknologi, masih merupakan jalan panjang yang harus ditempuh. Meskipun bisa dibilang bioteknologi merupakan salah satu prioritas nasional dalam kebijakan strategi riset dan teknologi. Hal ini disebabkan berbagai hal. Selain karena memerlukan biaya mahal dan waktu panjang, kemampuan nasional dalam konteks dana dan prasarana masih perlu ditingkatkan.

Sedangkan dari sisi sumber daya manusia, jumlah ilmuwan dan pakar bioteknologi secara nasional sebetulnya sudah mencukupi, namun keberadaannya tersebar diberbagai institusi riset dan pendidikan. Minimnya ketersediaan dana, prasarana dan kesempatan untuk melakukan kegiatan pengembangan bioteknologi mengakibatkan sebagian para ilmuwan bioteknologi Indonesia lulusan luar negeri mencari kerja dinegara lain untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Pilihan yang ada terpulang kepada kita sendiri. Apakah akan menjadi penonton yang manis, menjadi target pasar bagi industri biofarmasi global, pengekor dari langkah mereka, atau mulai ikut sebagai pelaku, inventor, dan inovator produk bioteknologi yang jelas akan mendominasi pasar farmasi dan kesehatan masa datang. Pilihan juga ditentukan oleh kemampuan finansial negara, yang pada saat ini lebih diperuntukkan bagi bangkitnya perkonomian kita dari keterpurukan akibat krisis yang berkepanjangan.

Bioisland

Namun urgensi pengembangan kemampuan nasional dibidang bioteknologi sudah lama disadari. Dan saat ini menjadi agenda penting dari Kementerian Riset dan Teknologi dengan dimulainya proyek nasional “Biosland”, dimana salah satu agendanya adalah pengembangan bioteknologi untuk aplikasi bidang farmasi dan kesehatan. Berdasarkan beberapa kajian dan pertimbangan strategis, politis dan ekonomis, proyek Bioisland akan dipusatkan di Pulau Batam.

Namun tak cuma hanya itu yang harus dilakukan pemerintah untuk mengembangkan bioteknologi di Indonesia. “Karena tampaknya kita harus memulai kerjasama regional untuk pengembangan teknologi ini di Indonesia,” komentar Boenjamin Setiawan, pakar bioteknologi kesehatan awal Agustus 2005 lalu.

Selain itu menurutnya pihak Indonesia juga harus memfokuskan pengembangan riset dalam teknologi ini pada kajian bioteknologi kesehatan. “Kajian riset seperti diagnostik, proteomik, terapi obat dan rekayasa DNA, dapat dijadikan target pengembangan inovasi teknologi ini di Indonesia,” lanjutnya.

Potensi Indonesia yang kaya dengan keanekaragaman hayati, bila didukung oleh kemampuan sumber daya manusia yang mumpuni, serta prioritas target yang diinginkan, menjadi langkah-langkah yang di tawarkan Boenjamin. “Selain itu untuk menghindari persaingan yang berat dengan industri biofarmasi besar, Indonesia harus menentukan porsi (niche) produk yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan lokal atau substitusi impor.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s