Teknologi Pembekuan Tak Maksimal Pada Jeruk Pontianak

perbandingan jeruk

Jeruk Kalimantan (dok.sulung prasetyo)

Berderet-deret keranjang jeruk, menghiasi pandangan mata. Sekilas semua tampak sama. Berwarna hijau dengan sedikit-sedikit kuning pada kulitnya. Sekilas pula tampaknya jeruk-jeruk tersebut kurang membangkitkan selera. Padahal sebenarnya, dari deretan keranjang tersebut. Tersimpan rasa manis, khas jeruk Pontianak.

“Jeruk dalam keranjang tersebut telah disortir menjadi tiga kelas,” ucap Masri, agen penjualan jeruk Pontianak, beberapa waktu lalu. Lalu kakinya melangkah menunjukan tiga perbedaan jeruk yang ada di rumahnya. Tiga jenis jeruk Pontianak saat di jejerkan memang berbeda secara ukuran. Yang paling besar masuk kelas A. Semakin mengecil, semakin turun kelasnya. Hingga nilai minimal, kelas C.

“Harga jeruk kelas A, sekarang mencapai 2.100 rupiah,” ucap lelaki kelahiran Blitar ini kemudian. Sikapnya yang terbuka, membuat tangannya menggamit satu macam jeruk. Kemudian kakinya melangkah ke sebuah meja. Mirip meja bilyar. Di salah satu ujung meja. Tampak terdapat tiga lobang, yang berbeda ukuran besarnya. “Kami menghitung besaran jeruk dengan menggunakan lobang ini. Kalau hanya menggunakan perasaan tangan bisa tertukar besarnya nanti,” jelas lelaki ini beruntun.

Sebagai agen pengumpul jeruk, Masri memang tampaknya perlu menyortir jeruk. Untuk jeruk-jeruk yang masuk kelas A. Ia menjual seharga Rp. 2.100 perkilonya. Semakin turun kelasnya semakin murah seharga Rp. 500.

Kini menurut Masri usahanya sudah terbilang maju. Jeruk-jeruknya sudah banyak yang memesan. Sehari saja ia bisa menjual hingga sembilan ton jeruk. Tersebar ke daerah-daerah pedalaman Pontianak. Seperti ke Kabupaten Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang, Sanggau dan lainnya. Ini terbukti juga, dari telepon-telepon yang terus saja masuk memesan. Saat berkesempatan mengunjungi pengusaha jeruk di desa Seberkat, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas ini.

“Jeruk-jeruk tersebut kebanyakan kami kirimkan untuk keperluan Kalimantan dahulu,” ucapnya. Namun ia tak menutup kemungkinan adanya traksaksi perdangangan jeruk miliknya hingga ke pulau lain. “Masalahnya selain harga transportasi yang agak berat, hingga sekarang kami juga belum menemukan cara agar jeruk tersebut bisa bertahan lama,” tambah lelaki ini lagi. Pasalnya bila ia mau mengirim ke Jakarta, berarti ia harus memikirkan bagaimana mengurus tetek bengek perpindahan sarana transport. Dan menurutnya ini cukup memakan waktu hingga tiga hari lamanya.

Kurang Teknologi

Selain masalah aksesibiltas yang tak mendukung. Masri juga mengungkapkan keresahannya pada teknologi kemasan pembungkus jeruk. Menurutnya hingga kini, kemasan yang ada sepertinya belum berada pada titik memuaskan. “Padahal jeruk-jeruk tersebut seharusnya bisa bertahan tiga sampai lima hari. Tapi karena kemasan yang kurang baik. Banyak jeruk-jeruk yang tiba di tangan pemesan dalam keadaan tak baik,” menurutnya. Dan ini baginya bisa menjadi sebuah preseden buruk, yang seharusnya dihindari.

“Suhu dingin malah membuat jeruk kiriman saya lebih cepat busuk,” ucap Masri, Pengalaman itu kemudian yang membuat ia selalu berpikir ulang, bila ingin memperluas sayap perniagaannya.

Mestinya, dengan produksi yang melimpah, jeruk Pontianak bisa menguasai pasaran Kalimantan, bahkan nasional. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Selain karena Kabupaten Sambas letaknya berada di ujung Provinsi Kalimantan Barat dan infrastrukturnya masih sangat terbatas, seperti tidak ada pelabuhan laut, akses untuk melakukan pemasaran ke daerah lain pun tidak mudah.

Masri yang telah memulai usahanya semenjak sembilan tahun lalu, mengakui bahwa usaha pendistribusian jeruk seperti miliknya ini. Juga harus siap merugi. Pernah suatu waktu ia tidak mendapatkan bayaran apaun, dari jeruk yang pernah dikirimkan. “Habis mau bagaimana. Wong pedagangnya bangkrut. Boro-boro buat bayar jeruk. Buat dia hidup saja sulit,” ceritanya sambil terkekeh. (sulung prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s