Kontes Robot Indonesia 2005

Meskipun dipenuhi juga dengan imbuhan-imbuhan minimnya dana, bertambahnya jumlah peserta kontes robot yang diselenggarakan Universitas Indonesia akhir pekan lalu, paling tidak menunjukan makin tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan tersebut. Hal ini sebenarnya patut disayangkan, mengingat minat yang besar bisa saja kandas bila dukungan dana tak kunjung memberikan harapan.

Hingga akhir Februari 2005 lalu, tim dari Universitas Surabaya (Ubaya) baru bisa 70 persen menyelesaikan modul robot mereka, yang akan dipertandingkan pada Kontes Robot Indonesia (KRI) 2005. Robot yang mereka buat ini, harus secepatnya mereka kebut pembuatannya, mengingat awal Maret bulan berikutnya harus mereka tampilkan dalam kunjungan tim juri.

Sejak proposal mereka dinyatakan lolos beberapa bulan lalu, Philips Putra Jianto dan Donny Wicaksono, anggota tim kontes robot dari Ubaya, memang terus bekerja keras untuk mewujudkan impian mereka membuat robot. Setiap hari usai pulang kuliah pukul 15.00 hingga pukul 03.00 dini hari, mereka dengan semangat mengerjakan robot impian tersebut. Berbulan-bulan bekerja tanpa mengenal lelah, di lantai dua kampus teknik Ubaya, akhirnya satu robot manual dan tiga robot otomatis mereka selesaikan pembuatannya. Kemudian salah satunya mereka namakan der Mullend.

Nama der Mullend menurut Philips, mereka ambil dari nama sebuah komidi putar yang biasa mereka lihat di pasar malam. “Robot kami ini ditaruh dongkrak ditengahnya, jadi bisa berputar-putar seperti komidi putar,” ujarnya bangga, saat ditemui di sela-sela acara KRI 2005, di Kampus UI Depok, Sabtu (14/5/2005).

Sebenarnya bukan cerita mengenai kerja keras yang membuat der Mullend pantas dijadikan contoh dalam tulisan ini. Namun kegigihan kerja mereka dalam mewujudkan impian, rasanya lebih patut dihargai. Dimana ternyata mereka harus mencari komponen untuk kebutuhan robot mereka di pasar loak. Tepatnya di pasar loak Jalan Demak Surabaya, mereka menggantungkan harapan.

“Apalagi untuk motor penggerak, pilihan satu-satunya harus dibeli di pasar loak. Karena kalau mau membeli aslinya mahal dan juga sulit mencarinya,” urai Philips.

Lucunya, saat ia membeli kebutuhan mendesak dan murah tersebut di pasar loak, ternyata Philips mengaku juga sempat bertemu dengan tim-tim robot lain yang berasal dari Surabaya juga. “Yah begitulah. Jadinya kami berebutan cari motor penggerak seharga tujuh ribuan itu,” ungkapnya.

Cerita rebutan di pasar loak sebenarnya merupakan sebuah hal yang lucu, bila tepat konteksnya. Namun cerita rebutan di pasar loak tersebut sebenarnya lebih tepat dikatakan satir, bila mau jujur.

Cerita satir ini mengenai kekurangan dana ini juga sebenarnya banyak ditemui juga pada kelompok pembuat robot yang lain. Seperti juga diungkapkan oleh Virdiansyah, Koordinator Tim robot elektro dari Universitas Gajah Mada. Dalam rilis mereka yang dapat dilihat dalam situs web2.ugm.ac.id, Virdiansyah mengemukakan bahwa kendala utama yang dihadapi tim robot mereka saat ini juga berkisar masalah klasik mengenai finansial. Hal ini menurutnya disebabkan karena untuk membiayai empat robot ini mereka paling tidak membutuhkan budget sekitar 70 juta. Dan dana sebanyak itu tidak mungkin hanya dipenuhi oleh jurusan, apalagi mengharapkan bantuan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) yang hanya berkisar 4 juta. Akhirnya setelah melakukan presentasi dan melobi kesana kemari, tim robot ini baru berhasil meyakinkan pihak universitas untuk mengucurkan dana. Hingga terciptalah empat robot yang akhirnya mereka beri nama Blangkon, Elsin, Detektif, dan Klepon.

Sebenarnya dua cerita satir diatas bisa jadi sudah dianggap lumrah di negara kita sekarang ini. Dimana juga kita sering mendengar keluhan-keluhan serupa pada banyak segi kehidupan yang lain. Termasuk di sektor penelitian kita. Namun seperti angin saja layaknya, semua dianggap satu masalahyang akan cepat berlalu saja.

Padahal kalau kita mau menganalisa secara jernih, dampak dari kekurangan dana, yang sering dialami para penggiat ilmu pengetahuan di Indonesia ini, sebenarnya malah menghambat kemajuan teknologi kita sendiri. Tanpa dukungan dana yang baik, kita tak akan bisa menyekolahkan anak-anak kita ke sekolah-sekolah terbaik. Tanpa dukungan dana juga kita tak akan menghasilkan bibit-bibit unggul. Dan tanpa dukungan dana, berarti secara logika kita tak akan mampu mendongkrak kemampuan teknologi kita serupa dengan negara lain.

Coba bandingkan dengan Vietnam, yang dua kali pernah menjadi juara dunia kontes robot internasional (tahun 2002 dan 2004). Banyak yang mengakui bahwa kemajuan pesat yang dicapai Vietnam ini, merupakan upaya dari pemerintah untuk menyediakan dana secukupnya untuk utusan mereka di kejuaraan dunia tersebut. Sedangkan negara kita, hanya menyediakan dana sebesar empat juta untuk kebutuhan pembuatan robot sebanyak 70 juta. Kurang dari 10 persen dari kebutuhan total dana.

Kemudian hal ini juga makin diperberat dengan minimnya juga dukungan dana dari berbagai pihak, seperti dari kaum industri misalnya. “Kalangan industriawan sepertinya bersikap “wait and see” dalam menyikapi masalah ini,” ujar Rinaldi Damini, Ketua penyelenggara KRI yang juga merupakan Dekan Fakultas Teknik UI.

Padahal menurutnya kalangan industri pada akhirnya yang akan menikmati hasilnya. Dimana selain sumber daya manusia yang baik akan tercipta, juga inovasi brilian mengenai prototipe akan mereka dapatkan. Dan bila melihat hal itu, merupakan sesuatu yang lumrah bila kaum industri dianggap bisa membantu sedikit suplai dana untuk masalah ini.

Melihat itu semua sepertinya kita berada di negeri tanpa harapan. Dimana semua prestasi dianggap hanya angin lalu. Kebutuhan kemajuan teknologi merupakan salah satu indikator penting kemajuan bangsa. Jangan menjadi terhambat hanya karena finansial. Jangan juga didiamkan, hingga membuat para pelaku harus meminta-minta. Meredup saat tak ada yang menanggapinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s