Polyurethane, Materi Polimer Penyembuh Luka

Polyurethane, dikenal sebagai salah satu jenis material unik. Bisa dibilang begitu karena materi yang satu ini memiliki sifat kombinasi antara elastisitas karet dan kerasnya besi. Dahulunya jenis materi ini dimanfaatkan mulai dari karet penghapus hingga pelengkap bola keras bowling. Namun saat sekarang keunikan materi yang satu ini juga dipergunakan untuk meminimalkan efek akibat luka.

Jenis materi polimer yang satu ini ditemukan oleh seorang peneliti berkebangsaan Jerman, bernama Otto Bayer pada tahun 1937. Dahulunya jenis materi ini tidak pernah disangka bisa membantu kehidupan manusia hingga berbagai sudutnya.

Kalau kita membuka situs mengenai materi yang satu ini akan segera terlintas bermacam produk yang memanfaatkan jenis materi yang satu ini. Mulai dari memanfaatkan sifat kekenyalannya sebagai karet penghapus, bahkan beberapa waktu pernah diujicobakan sebagai karet kondom. Hingga memanfaatkan sifat keras materi ini sebagai bahan-bahan furnitur untuk kelengkapan rumah tangga.

“Bahkan dengan kemampuannya untuk menyimpan panas dan menahan tekanan, membuat jenis bahan yang satu ini sebagai solusi untuk menyembuhkan luka,” ungkap Wolfgang Meyer Ingold, PhD, salah seorang peneliti kesehatan, di Jakarta, Selasa (19/4/2005) kemarin.

Obat Luka

Mungkin buat anda yang menyukai cerita Harry Potter, tidak akan terhenyak bila melihat orang memiliki luka sejelas itu di dahinya. Bahkan bila kita mengamati kelanjutan kisahnya mungkin kita malah ingin memiliki luka seperti itu, karena ternyata luka tersebut malah membuat kita lebih kuat dan memiliki kemampuan yang tidak di miliki orang lain.

Namun lain lagi buat para ibu-ibu yang baru saja melahirkan dengan operasi caesar. Teknik kelahiran dengan membelah bagian perut, dan meninggalkan parut panjang pada salah satu sisi paling berharga untuk wanita tersebut. Dan pada kenyataannya hal tersebut amat mengganggu untuk para kaum wanita. Apalagi bila harus terlihat oleh suami mereka.

Oleh karena itu, disatu sisi luka kadang menimbulkan kesenangan karena meninggalkan sisi ketegaran di dalamnya. Namun disisi lain, luka juga menimbulkan kepedihan, karena mengisyarakatkan kepedihan bagi yang pernah merasakannya.

Manusia terluka sebenarnya terbilang wajar. Dan secara alamiah bila kita terluka pasti akan menutupnya sebisa dan seerat mungkin. Namun bahan apa yang digunakan untuk menahan keluarnya darah?

Alat-alat seperti perban yang dibalutkan atau perban yang ditempelkan semacam Hansaplast pastilah kita mengenalnya. Namun, pada kenyataannya alat-alat seperti itu hanya bisa menyembuhkan jenis luka yang kecil. Lalau bagaimana dengan luka yang besar?

Wofgang juga menyadari hal tersebut dan mulai mencari solusi dari hal ini. Kemudian setelah bekerjasama dengan perusahaan Beirsdorf dari Jerman, akhirnya ia menemukan bahwa materi jenis ini ternyata bisa menjadi solusi ampuh untuk menyembuhkan luka berkepanjang atau berjenis besar seperti yang dialami para ibu-ibu tersebut.

“Seperti teknik tekanan untuk menyebuhkan luka. Sebenarnya hal tersebut sudah lama dilakukan dalam proses peyembuhan luka,” ujar Wolfgang.

Panas dan Tekanan

“Menyembuhkan luka sebenarnya bisa dilakukan dengan konsep menahan panas yang ada disekitar luka dan menekannya,” ujar Wolfgang. Konsep tersebut yang akhirnya dipergunakan Wolfgang untuk mencoba meminimalkan hasil luka.

“Biasanya suhu kulit yang terkena luka selalu satu derajat lebih dingin daripada kulit disekitar luka,” ujarnya mencoba menjelaskan. Karena pengetahuan itulah, ia mencoba mencari cara untuk mengurangi dingin yang disebabkan luka tersebut.

Bahan Polyurethane, yang memiliki sifat kenyal dan kuat itulah yang kemudian dicobanya. Namun ternyata dengan keunikan meterial tersebut, panas yang dibuthkan untuk menyembuhkan luka ternyata bisa dipertahankan. “Bahkan bahan polyurethane ini juga bisa mempertahankan teknik penekanan seperti layaknya manusia menutup luka dengan tangan,” imbuh pria berpenampilan rapi ini.

Wolfgang juga menambahkan bahwa dengan adanya pelapis luka berbahan polyurethane ini malah bisa juga mengurangi efek parut yang kadang tertinggal paska mengalami luka. Ini menurutnya disebabkan karena kesempurnaan bahan tersebut dalam mempertahankan panas dan penekanan yang dibutuhkan tubuh didalam proses penyembuhan.

“Karena pada saat kulit melakukan proses remodelling paska penyembuhan luka. Sel-sel pada tubuh secara langsung atau tak langsung akan bertumpukan. Hal inilah yang kemudian meninggalkan jenis parut pada luka,” tambahnya.

Satu-satunya cara untuk mengurangi hal tersebut adalah dengan memberikan pelapis yang mampu mempertahankan panas dan tekanan. Karena dengan panas yang terkendali, dan tekanan yang pantas, maka proses remodelling kulit tersebut akan terfasilitasi dengan layak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s