Beberapa Bagian Bumi Mulai Terdampak Pemanasan Global

Mulai diberlakukannya Protokol Kyoto untuk mengurangi laju pemanasan global di bumi ini tampaknya memang harus secepatnya dilakukan. Mengingat beberapa daerah di dunia kini mulai memperlihatkan dampak mencemaskan dari efek pengurangan muka es tersebut.

Perubahan global lapisan es dipermukaan bumi, kini rupanya mulai makin mencemaskan. Beberapa daerah seperti kepulauan Tavalu, di samudra Pasifik, mulai sering tenggelam lebih dalam bila harus menghadapi musim pasang besar. Ini terlihat seperti kejadian pekan lalu di pulau berluas hanya 10 kilometer persegi tersebut. Dimana orang-orang Tavalu harus merasakan kembali kerasnya ombak besar dan angin topan yang mengirimkan ombak hingga ke jalan-jalan utama kota mereka.

“Tembok pembatas laut yang kami bangun untuk melindungi dari serangan ombak dari laut, tampaknya makin rendah saja kini,” ucap Silafaga Lalua, dari situs mereka di http://www.tavaluislands.com.

Dampak dari makin tingginya pamanasan global tersebut tidak hanya dating hanya sekali atau dua kali saja. Kini bahkan mereka sudah terlalu sering menerimanya.

“Rumah-rumah yang berlokasi di dekat bagian pantai, hampir pasti sudah sangat berpengalaman dalam mengahadapi banjir hampir tiap waktu, karena datangnya ombak besar,” tambah Lalua lagi.

Lalua kin mulai takut pulau tempat tinggalnya tersebut akan terhapus dari muka bumi. Sekarang ia mulai meminta pertolongan kepada siapa saja yang bisa merubah keadaan tersebut.

Selain permukaan kutub yang menipis. Dampak dari perubahan akibat pemanasan global juga mulai menimpa daerah gunung-gunung bersalju di Himalaya.

“Di Himalaya, beberapa lapisan salju menyusut hingga membuat lapisan tersebut naik hingga 70 kilometer jauhnya,” urai Martin Beniston, peneliti masalah iklim dari Universitas Freiburg di Swiss.

Dalam uraiannya yang diungkapkan dalam pemberitaan kantor berita AFP tersebut juga menyebutkan bahwa di Bhutan, paling tidak terdapat 50 danau yang terancam mendapat tambahan dari es yang mencair ini.

“Dan seperti halnya gelombang tsunami yang pernah menimpa kita beberapa waktu lalu. Beberapa desa di pinggir-pinggir danau tersebut juga kini terancam hal serupa.”

Hal serupa juga terlihat pada kondisi pegunungan bersalju di Indonesia. Tim Mapala UI yang baru beberapa waktu yang lalu mencoba mendaki kembali ke puncaknya, menemukan perbedaan lapisan salju yang makin mengkhawatirkan.

“Dari titik tonggak pembatas salju yang di tanam beberapa tahun lalu, ditemukan bahwa kini lapisan salju yang mencair mencapai satuan kilometer jauhnya kini menuju ke puncak pegunungan Jaya,” ucap Ripto Mulyono, salah seorang pendaki.

Hal tersebut kemudian juga dikaitkan dengan kemungkinan berakhirnya dunia. Kantor berita Reuters sendiri mempertanyakan. Apakah bila beruang-beruang bangun lebih cepat dari proses hibernasi mereka, atau pengalaman para surfer Australia yang mengalami ombak paling besar dalam ratusan tahun pengalaman mereka, serta serangan terus menerus dari topan badai yang menimpa daratan Florida, menunjukan kiamat-kiamat kecil yang menjadi pertanda awal berakhirnya dunia ini?

Meskipun kenyataannya kini ada 141 negara di dunia yang setuju untuk mulai dibelakukannya ketentuan Protokol Kyoto. Namun tetap saja dampak dari pemanasan global tersebut terus saja terasa oleh umat manusia.

“Menanggulangi dampak dari pemanasan global di muka bumi bukan perkara mudah. Namun, tidak menghiraukannya bias jadi malah menambah buruk keadaan,” tegas juru bicara dari PBB saat memberikan pendapat mengenai masalah ini, beberapa waktu lalu.

Arogansi Amerika Serikat, dengan tidak mau bergabung dengan para negara lain di Protokol Kyoto, juga menunjukan tidak terlalu pedulinya mereka terhadap kemungkinan bencana akibat pemanasan global ini. Alasan mereka jelas, bahwa membiayai negara-negara industri untuk meminimalkan efek gas buang mereka membutuhkan biaya yang sedikit. Dan dengan berdalih bahwa masalah ini perlu di telaah lebih dalam, Amerika Serikat dengan pongahnya menolak kemungkinan bergabungnya mereka dalam traktat perjanjian antar bangsa di dunia tersebut.

“Padahal bila mereka mau bergabung dalam protokol tersebut, paling tidak 150 milyar dollar uang mereka bisa menyelamatkan bumi yang makin ringkih ini,” ucap Bjorn Lomborg, dalam bukunya “The Skeptical Environmentalist”.

banyak efek kini mulai terlihat dari pemanasan global tersebut. Gunung-gunung bersalju yang mulai mencair. Mengakibatkan melubernya kapasitas air di danau-danau di bawahnya. Yang pada saatnya nanti bisa juga menimbulkan gelombang besar seperti tsunami, dan memakan korban banyak orang.

Belum lagi laut yang makin mengganas. Mengakibatkan banyak pulau –pulau kecil terancam tenggelam. Lalu apabila hal ini terus didiamkan, apakah hal tersebut akan makin membaik dengan sendirinya. Tidak juga, karena dimana-mana Tuhan juga bersabda. Bahwa nasib di tentukan oleh usahamu juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s