Merah Iwan Simatupang

merahny amerah

Judul buku : Merahnya merah
Penulis : Iwan Simatupang
Penerbit : PT Toko Gunung Agung
Tebal : 164 halaman
Cetakan : Ke Empat belas, Mei 2002, Jakarta

Sebelum revolusi, dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Diakhir revolusi, dia algojo berdarah dingin. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa!”

Pembukaan novel yang mencekam seperti itu, sampai dengan tahun 1960 silam, merupakan pembukaan novel yang khas milik Iwan Simatupang. Pembukaan novel yang padat, penuh dengan pandangan-pandangan hidupnya. Ini juga yang menjadi dasar konsep penulisan kesustraannya yang sarat dengan personifikasi teori eksistensialisme.

Novel yang mulai ditulis 18 Maret 1961 hingga 9 September 1961, menampilkan Tokoh kita. Yang dengan kesadarannya bergelimang pada nilai-nilai irasionalisme, kesadaran pada nilai-nilai ‘gelandangannya’, tak jelas mana makna dan realitas. Hingga akhirnya terbias menjadi manusia-manusia kalah dalam usaha memahami apa sebenarnya hakikat hidup ini.

“Tragikku adalah tragik dari sebelum tragik, tragik rangkap dua!” ucap tokoh utama dari novel ini. Cerita bercampur dengan bertemunya Tokoh kita dengan Maria- seorang juru rawat yang gagal- bekas pembantu pastoran yang diperkosa dan jadi pelacur gelandangan juga. Lalu muncul tokoh lain ditengah kisah percintaan Tokoh kita dan Maria, yaitu Fifi, yang baru berumur 14 tahun, yang juga korban perkosaan oleh para gerombolan bandit penjarah kampungnya. Hingga akhirnya timbul cinta segitiga yang aneh luar biasa. Revolusioner.

Cerita terus berlanjut hingga mencapai klimaks pada masalah hilangnya ketiga tokoh yang ada dalam novel ini, berturut-turut hilang dan tidak kembali. Membuat sibuk semua orang, centeng, bekas abang becak yang menjadi preman, para gelandangan seluruh kota, dokter bekas ajudan dari tokoh kita, para tentara dan polisi, bahkan sampai Pangdam dan Pangdak.

Ketiga tokoh itu benar-benar hilang seperti di telan bumi dan tak kembali lagi. Kita yang membacanya seakan tak diberikan kesempatan bersukaria menikmati jerih payahnya mengejar kebahagiaan.

Iwan Dorotua Simatupang menurut tokoh sastra H.B.Jassin adalah pengarang yang penuh kejujuran mencoba melukiskan dengan jernih pikiran-pikiran tokohnya dan hakekat masalah-masalah hidupnya tanpa selubung kerahasiaan yang ditutup-tutupi.

Itulah Iwan Simatupang yang apa adanya. Mencoba menggambarkan kehidupan para gelandangan yang ternyata hidupnya penuh juga dengan kekompleksan masalah. Tapi selalu harus berakhir dengan penderitaan dan selalu disingkirkan atau bahkan dilupakan.

Novel-novel Iwan selalu menampilkan bayangan manusia problematis, yang sejarah, identitas, serta tujuan hidupnya selalu dipertanyakan. Para gelandangan yang harus menerima kenyataan hidup dengan makna ketidakpahaman atas semua itu.

Kemudian bagaimana masalah mutu?. Jawabannya teramat relatif. Bisa bermakna ‘lebih’ bila pada waktu seseorang membacanya ia mendapat kesenangan dan kegunaan baru baginya. Bisa juga bermakna ‘kurang’ bila bisa disamakan dengan saat orang yang sedang sakit gigi, yang merasakan segala makanan yang masuk ke mulutnya hanyalah kepahitan.

Menurut teori, sebuah cerita biasanya bisa dikatakan bermutu bila ia mampu memberikan gugahan pikiran, rangsangan kesenangan dan mampu memperkaya hidup kita. Meminjam ucapan Maurice B. McNamee, James E. Cronnin, Joseph A. Rogers (Literary Types and Themes, 1971: 13), “Makin besar kadang rangsang yang diberikan satu cerita, berarti makin bermutu ia dari cerita lainnya.

Iwan Simatupang sendiri ternyata cukup jujur juga dengan masalah bermutu- tidaknya hasil yang diberikan.Dalam sebuah suratnya kepada .B. Jassin pada 13 Oktober 1969, Iwan menulis, “ Registrasi daripada kesan-kesan inderia ini, apakah juga sastra namanya? Prust, Kafka, Ludwig Kleiges, Strindberg, sampai-sampai ke Nietzsche: suatu summing up daripada denyaran-denyaran biologis, dibubuhi komentar-komentar kosmologis. Dan, kita sebut semuanya itu: sastra besar, falsafah besar!”

Dengan demikian maka masalah mutu kita kembalikan saja kembali kepada cerita itu sendiri. Setelah selesai membaca keseluruan cerita apakah ia akan dengan serta merta mampu merasakan apa jawaban yang keluar dari kesadaran rasa dan akalnya. Mana plus, mana minus, mana kurang, mana lebih.Terserah.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s