Menengok Pesta Dewi Sri

ciptagelar2

doc. sulung prasetyo
Petani menyiapkan sesembahan berupa padi yang sudah dipanen pada bilah bambu. Kemudian membawanya dengan menggoyang-goyangkan bambu tersebut. Atraksi ini disebut Dog Dog Lojor.

Sudah sepantasnya kita sebagai manusia mengucapkan syukur atas segala rahmat yang diberikan Tuhan. Di Ciptagelar upacara syukuran atas segala rahmat tersebut juga dilakukan tiap tahun. Tahun ini upacara budaya yang di sebut Seren Taun tersebut jatuh di awal bulan Agustus 2004 ini.

Dari pagi hari, orang-orang bergegas menuju tempat pengeringan padi di batas desa. Beratus pocong ikat padi tempeuy koneng dan tempeuy hitam terlihat disusun rapi sejajar di atas rak-rak berbahan bambu. Warga adat Ciptagelar yang pagi ini kebanyakan berpakaian hitam-hitam kelihatan mulai serius mengoleskan minyak sayur di atas rengkong – alat untuk membawa padi – mereka.

Hari itu orang-orang adat Kasepuhan Ciptagelar akan mengarak padi-padi tersebut menuju ke pusat adat kasepuhan untuk dipersembahkan dan disimpan di lumbung Si Jimat yang bertuah. Sebuah ritual budaya adat Sunda yang sudah berumur ratusan tahun.

Rengkong-rengkong yang sudah diminyaki tersebut mengeluarkan bunyi-bunyi aneh saat mulai dibebani oleh beberapa ikat pocong padi. Ada alunan irama kemerenyit, yang mungkin timbul karena gesekan tali ijuk pengikat padi dengan batang bambu saat para pembawa padi mulai menggoyangkannya.

Kemenyan dibakar oleh dukun kampung. Parade barisan pembawa padi itu pun bergerak. Paling depan berjalan gagah empat orang pendekar debus yang sepanjang jalan terus saja mempertontonkan keahliannya dalam hal kekebalan tubuh. Kadang mereka menusuk perut dan mata mereka, memotong lidah, menggorok leher dengan golok yang dibawanya. Tapi anehnya tak ada luka satu pun yang tercipta dari berbagai tindakan yang membahayakan tersebut.

Di belakang para pendekar debus itu berjalan dengan tenang dua orang gadis dengan kemben bermotif batik berwarna hitam putih. Dua gadis cantik ini membawa dua tempat beras yang dikepit di pergelangan siku mereka. Di belakangnya berjejer puluhan pembawa rengkong yang terus-terusan saja bergoyang hingga mengeluarkan bunyi kemerenyit gesekan bersahut-sahutan. Riuh sekali bunyi itu, saling berkejar-kejaran.

Di belakang rombongan para pembawa rengkong berturut-turut ada rombongan penari silat, penari jipeng, penari dog-dog lojor, penabuh angklung dan yang terakhir para sesepuh kampung yang notabene berpakaian putih-putih.

ciptagelar3

doc. sulung prasetyo
Deretan sesembahan berupa pocongan padi, pada acara Seren Taun di desa Ciptagelar. Padi sesembahan tersebut akan disimpan didalam lumbung, untuk menjaga kestabilan kondisi kampung.

Sampai di pusat desa, tepatnya di samping rumah Abah Anom —tempat Leuit Si Jimat berada— rombongan berhenti dan menyerahkan beberapa pocong ikat padi kepada Abah. Ini merupakan tanda persembahan hasil panen rakyat kepada pimpinannya.

Ratusan ikat pocong padi kemudian disejajarkan tepat di depan Leuit Si Jimat. Sementara persis di depan lumbung sudah menanti dukun adat, Abah Anom dan istri, serta para pemain angklung yang akan memulai upacara adat memasukkan padi ke dalam lumbung.

Upacara Ngadiukeun terasa begitu khidmatnya. Para anak cucu, kaum kerabat kelihatan berjubel mengitari lumbung Si Jimat. Senandung doa-doa dalam bahasa Sunda terdengar terus berkumandang dalam irama yang syahdu. Diiringi dengan suara angklung yang terdengar pelan, tahapan demi tahapan ritual ini dilaksanakan. Mulai dari penyerahan dua tampi padi dari dua orang gadis, kemudian diikuti dengan pembakaran menyan dan pembacaan doa, kemudian diikuti dengan masuknya abah dan istri serta dukun ke dalam lumbung sebagai tanda mulai ditaruhnya padi pertama hasil panen tahun ini yang masuk ke dalam lumbung keramat tersebut.

ciptagelar1

doc. sulung prasetyo
Padi dimasukan secara bergotong-royong, ke dalam lumbung.

Tak sampai setengah jam Abah dan yang lain mulai keluar kembali dari lumbung. Dengan senyum cerah dan wajah terang, karena sudah terlepas dari kewajiban adat yang harus dilakukan tahun ini. Setelah itu, beratus-ratus pocong padi yang disejajarkan di depan lumbung Si Jimat dimasukkan satu per satu ke dalam lumbung, hingga habis semua.

Saat padi terakhir masuk ke lumbung, saat itulah juga pertanda selesainya acara ritual ini. Semua kelihatan senang karena usainya acara ini tanpa ada satu musibah yang terjadi. Kabar berkah selesainya ritual tersebut, semakin bertambah mengesankan saat abah dengan tegas menyatakan bahwa panen tahun ini ternyata meningkat hingga mencapai 13 lumbung lebih banyak dari tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s