Dilema Penjual Edelweiss Bromo

Menarik bila kita mau membahas arti konservasi di kawasan Bromo. Diantara kebimbangan manusia untuk menelaah arti konservasi sesungguhnya. Kita dihadapkan pada kenyataan disana. Bahwa konservasi hanyalah kata-kata bijak, yang dimanfaatkan. Menjadi tameng legalisasi penjualbelian bunga abadi, anaphalis javanica.

Jangan kaget kalau kita ke kawah Bromo, tiba-tiba menemui penjual bunga edelweiss simpang siur bersama indahnya matahari terbit. Konon bunga lestari yang dilindungi ini, memang banyak dijual belikan secara bebas di banyak wisata pegunungan Jawa.

Hal itu juga dibenarkan oleh Semangat, petugas kehutanan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Menurutnya penjualan bunga tersebut sudah sangat lumrah di wisata pegunungan Jawa. “Penjualan bunga Edelweiss bukan cuma disini saja mas. Di Semeru, Merapi, Gede, juga banyak yang menjual bunga ini,” ucapnya.

Lumrahnya pemikiran mengenai transaksi bunga ini sebenarnya mudah saja dinalar. Kebutuhan industri wisata yang memaksanya. Berbaur dengan dalih ekonomi rakyat, dan tipisnya moral pembeli. Malah membangkitkan kesadaran, bahwa bangsa kita memang benar masih sangat lemah dalam penegakan hukum.

Berbagai faktor lain, juga malah mendorongnya makin dalam. Makna konservasi yang berarti melindungipun makin pudar, berganti dengan pemanfaatan celah kosong, guna meloloskan kepentingan individu saja.

Bunga ini dikenal sebagai bunga khas bagi para pendaki gunung. Karena kita hanya bisa melihatnya di daerah puncak-puncak gunung. Oleh karena alasan itu juga, maka keluar berbagai peraturan yang bertujuan mempertahankan keberadaan bunga tersebut tetap lestari.

Namun dibanyak daerah pegunungan di Jawa. Kadang kita temui banyak penjual bunga ini yang berkeliaran bebas. Menjual bunga-bunga abadi tersebut, dalam ikatan-ikatan kecil bertangkai 5 sampai 10 buah. Dan dijual dengan harga bervariasi antara Rp 5000 – Rp 10.000.

Salah satu tempat penjualan yang terlihat kentara berada di daerah pelataran gunung Pananjakan, kawasan TNBTS di Jawa Timur. Saat banyak turis memanfaatkan waktu melihat matahari terbit dan panorama kawah Bromo dari kejauhan. Kita akan melihat lima sampai sepuluh penjual, menjual bunga-bunga tersebut secara gigih pada para wisatawan. Penulis yang berkesempatan mengunjungi daerah tersebut akhir minggu lalu (21-23/7/2004) lalu, sempat juga ditawari oleh beberapa penjualnya. Dengan kesan tanpa rasa bersalah ataupun malu-malu, mereka menawarkan bunga langka tersebut.

“Menjual memang tak boleh mas, tapi kalau membeli tak akan diapa-apakan oleh petugas disini. Makanya mending mas beli saja,” ucap beberapa penjual disana meyakinkan. Menyampaikan ironi dari sebuah makna konservasi, yang berarti melindungi.

“Bunga Edelweiss sebenarnya tidak dilindungi. Yang dilindungi itu flora dan fauna yang berada di dalam kawasan taman nasional. Kebetulan Edelweiss ada didalamnya,” kata Semangat lagi.

Suaranya yang lantang terdengar menyesakan telinga. Menjelaskan makna pemikirannya mengenai arti konservasi. Bahwa konservasi hanyalah melindungi yang ada di dalam penjagaanya. Dan yang berada di luar lingkaran bisa bebas dimanfaatkan semaunya.

“Kebanyakan bunga Edelweiss yang dijual itu, diambil dari daerah diluar taman nasional, jadi sah saja kalau mereka menjualnya. Kami tak bisa melarang karena alasan tersebut,” jelasnya lagi.

Konsensus kebijakan pada kenyataan inilah yang kini mencuat dibanyak hukum kita. Bahkan seorang petugas kehutanan sudah tak berkutik pada kenyataan. Sialnya ketidakmampuan ini kembali di letakan pada kesalahpahaman mengenai minimnya sumber daya manusia yang dimiliki.

“Dengan SDM yang ada sekarang, tidaklah mampu mengcover keseluruhan kawasan taman nasional ini,” ucap Semangat lagi. Dan hal inilah yang rasanya masih menjadi momok di banyak kawasan lain.

Kenyataan inilah yang makin menohok keberadaan konservasi di lahan –lahan cagar alam Indonesia. Kesalahpahaman mengenai makna konservasi masih membayangi. Sementara pola pikir manusia yang sebegitu luasnya, malah dimanfaaatkan untuk hal-hal yang miring. Seharusnya aparat bertugas menjaga. Bunga Edelweiss tersebut jelas tak akan dapat tumbuh di tanah-tanah dataran rendah. Kalau alasan penjual tersebut mengambil dari kawasan di luar taman nasional. Seharusnya petugas kehutanan menjaga agar mereka tidak menjualnya didalam kawasan. Karena bisa berbahaya terhadap image wisata konservasi di Indonesia. Yang akhirnya bisa menjadi duri dalam daging kawasan konservasi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s