Menelisik Praktek Pemanfaatan Satwa Liar Kini

Binatang ada di dunia ini untuk menemani manusia. Namun, ketika ada seorang nyonya berjalan dengan pongah di bandara dengan jaket kulit ular, siapa yang pernah berpikiran untuk memberitahukannya. Bahwa berteman bukanlah menyakiti, tapi saling mengisi.

Lebih baik disini kita beri batasan. Dari sekolah dasar dulu, kita pernah diajari. Bahwa satu spesies hidup dalam satu ekosistem. Jaring ekosistem ini saling bertautan satu sama lain dan saling membutuhkan. Bunga bersemi karena kupu-kupu menyerbukan nestarnya. Tak terbayangkan kalau tiba-tiba tidak ada kupu-kupu di dunia ini. Selain bunga-bunga akan kesepian dan mati. Manusiapun pasti akan terkena dampak juga. Karena tak ada bunga di dunia ini.

Indonesia yang diketahui sebagai salah satu rajanya pemilik satwa dunia, tak bisa lepas dari masalah ini. Maka tak salah kalau pemerintah mengeluarkan berbagai peraturan mengenainya. Sebut saja UURI No.5 tahun 1990, KepMenHut No.62 Tahun 1998, dan sederet yang paling baru UU No. 7 dan 8 tahun 1999 tentang pengawetan dan pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.

Satwa liar yang makin sedikit keberadaannya, menjadi sebuah terminologi tujuan. Karena ketakutan kita akan masalah keseimbangan alam. Tapi dari sederet peraturan yang bertujuan untuk menyeimbangkan itu malah berkata sebaliknya. Disinyalir banyak aspek yang menyebabkannya. Salah satunya mengenai kesalahan persepsi masyarakat mengenai konsep kesejahteraan hewan. Dan aspek klise lainnya adalah kurang tegasnya penegakan hukum mengenai masalah ini di Indonesia.

Kesejahteraan Hewan

Banyak orang yang salah mengartikan mengenai nilai sejahtera bagi hewan. Apalagi hewan liar yang punya spesifikasi khusus mengenai hidup. Untuk seekor orang utan, hidup sejahtera mulanya adalah bebas bergelayutan dari satu pohon ke pohon yang lain. Bebas mencari buah kayu untuk meneruskan hidup. Dan bebas mencari pasangan yang ia suka. Semua hal itu adalah alamiah. Seperti kita juga suka hidup bebas.

Namun, semua bisa terenggut saat kandang menjadi tempat tinggal. Keterbatasan ruang membuat kehidupan menjadi statis. Interaksi psikologis dan sosial yang dibutuhkan menjadi berkurang. Pilihan-pilihan yang ada lebih merupakan keterpaksaan.

“Daripada gue nggak makan, mending gue embat aja nasi rawon ini,” begitu mungkin pikir hewan yang ada dalam kandang seorang penggede di timur jawa sana.

Beban perubahan fisiologis itulah yang tidak sadar harus diterima banyak satwa liar piaraan. Itu terus berlaku selama manusia yang memeliharanya terus berpikir, kalau salah satu unsur sebagai penyayang hewan, adalah berupa pemberian makanan yang sama seperti ia makan.

Kita seharusnya mengakui kalau hewan berbeda dengan manusia. Khusus mengenai satwa liar yang punya latar belakang fisik, kapasitas otak dan perilaku yang berbeda, menjadikan apa yang harus dijalani untuk hidup berbeda juga.

Makanan baru satu contoh beban perubahan yang harus diterima hewan liar piaraan. Masih banyak yang lain. Yang secara sadar tak sadar terus menggerus mereka. Menjadi hewan habitat baru. Orang utan yang dipiara, terlupakan tugas sucinya. Memakan buah kayu dan menyemai bijinya di dalam perut. Keluar dalam kotoran sebagai biji kayu yang siap tanam.

Penegakan Hukum

Animal welfare atau kesejahteraan hewan, baru satu faktor pendukung. Dari bangunan masalah mengenai miringnya konsep pemanfaatan hewan liar saat ini. Lemahnya penegakan hukum menjadi faktor pendukung lain. Yang dirasa sangat mengganggu lancarnya arus ideal yang diharapkan.

Terasa klise kedengarannya. Masalah berbedanya teori dan praktek pelaksanaan hukum, menjadi satu selah pengganggu. Tapi bila dilihat dari bukti yang ada dilapangan, tak pelak lagi, masalah penegakan hukum memang seharusnya ditinjau ulang kembali.

Yang rasanya paling utama patut diperhatikan mengani masalah ini adalah lambannya kerja petugas. Banyak kasus penjualan hewan secara ilegal dalam porsi kecil dibiarkan saja. Padahal bila nanti masalah makin membesar, kelemah syahwatan aparat malah jadi terlihat.

Belum lagi masalah lain seperti korupsi dan kolusi antara petugas dan pedagang. Yang jelas-jelas tidak mencerminkan semangat reformasi. Kerunyaman makin menjadi saat diketahui, ternyata banyak aparat yang memelihara satwa liar dilindungi ini.

Perang untuk menyelesaikan masalah ini terus berlangsung hingga sekarang. Pemahaman yang keliru mengenai kesejahteraan, penegakan hukum yang kurang, menjadi item masalah penting yang harus dicermati. Titik ideal tetap ingin dicapai, dimana segala bentuk praktek pemanfaatan satwa liar tidak terdengar lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s