Masyarakat Adat Potensial Sebagai Kekuatan Negara

Keberagaman masyarakat adat di Indonesia, yang kaya dengan kultur dan adab turun temurun dianggap memiliki nilai potensial sebagai unsur penguat negara. Oleh karena itu berbagai unsur yang bisa mereduksi, diharapkan bisa dikurangi, dan unsur penguat kecintaan terhadap masyarakat adat harus selalu ditingkatkan. Demikian diungkapkan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Kamis (24/5/2012) di Jakarta.

“Potensi kekuatan negara ada di masyarakat adat, karena masyarakat adat merupakan awal mula adanya masyarakat Indonesia sekarang ini,” papar GKR Hemas.

Namun sayangnya, nilai-nilai yang ada dimasyarakat adat seperti dilecehkan dan tidak lagi memiliki nilai, dikalangan masyarakat umum saat ini. Kondisi tersebut dapat dianggap mencemaskan, mengingat tanpa adanya masyarakat adat, maka tak ada masyarakat modern Indonesia saat ini.

Penurunan nilai terhadap masyarakat adat tercermin pada beberapa kasus yang terjadi, seperti keharusan memilih salah satu dari lima agama yang ditetapkan pemerintah. Padahal secara turun temurun, belum tentu kalangan adat menerima salah satu dari kelima agama tersebut, sebagai pilihan. Kondisi tersebut kemudian dianggap sebagai salah satu unsur yang harus direduksi, bila tak ingin jati diri bangsa Indonesia yang terletak di masyarakat adat hilang.

Masalah lain pada masyarakat adat juga dikemukakan Nia Syarifudin, dari Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI). Masalah yang paling mencemaskan terutama pada stigma negatif, yang kerap ditempelkan pada masyarakat adat. Stigma negatif tersebut ada pada pandangan keterbelakangan, primitif dan keragaman pemikiran.

“Seperti pada kasus acara televisi bertema primitif yang kerap ditayangkan media televisi, hal tersebut dianggap beberapa kalangan adat sangat menyakitkan dan menakutkan,” tambah Nia, pada kesempatan serupa.

Karena kejadian itu, kalangan media saat ini juga dianggap sebagai salah satu biang penyebab, masih tingginya stigma tersebut.

Stigma lain yang mencemaskan merupakan cara penamaan dan simbol-simbol yang kerap dikaitkan dengan masyarakat adat. Seperti pada penamaan daerah terbelakang dan primitif, jelas membuat psikologis masyarakat adat menjadi terganggu, sebab dianggap sebagai pengganjal kemajuan Indonesia. Padahal secara pribadi, kalangan masyarakat adat merupakan komunitas yang terus bergerak dan berubah serta menyesuaikan zaman, dengan tanpa melupakan nilai-nilai leluhur.

Bahkan keragaman cara berpikir masyarakat adat, kemudian dianggap sebagai bibit perpecahan. Kesalahan pendapat tersebut seharusnya dikurangi, mengingat berbagai perbedaan pemikiran tersebut bukan menjadi bibit perpecahan, justru menjadi sumber kekayaan negara yang tak ternilai harganya.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s